Media Kampung – Keluarga hilang kontak dengan Yasinta Moiwend sebelum muncul di Polda Metro menjadi sorotan publik setelah perjalanan tokoh adat Papua tersebut ke Jakarta yang penuh kontroversi. Yasinta Moiwend, yang akrab disapa Mama Sinta, tiba di Jakarta untuk melaporkan dugaan pencatutan wajahnya tanpa izin dalam film dokumenter berjudul “Pesta Babi”. Namun, pihak keluarga sempat kehilangan kontak sejak tanggal 24 Mei 2026, menimbulkan dugaan adanya tekanan dan penyelundupan oleh aparat militer.
Keluarga mengungkapkan bahwa setelah video Mama Sinta berkembang di media sosial pada 23 Mei, komunikasi dengan Mama Sinta terputus. Mereka menduga Mama Sinta ditekan dan diselundupkan dari Merauke menuju Jakarta, melewati beberapa titik seperti pos TNI di Kampung Wogikel dan Timika. Selama lima hari tidak dapat dihubungi, keluarga baru mendapatkan kabar pada 29 Mei ketika Mama Sinta sudah berada di Polda Metro Jaya melaporkan Direktur LBH Papua Merauke terkait film tersebut.
Namun, Mama Sinta membantah keras semua tuduhan tersebut. Ia menegaskan bahwa perjalanan ke Jakarta sepenuhnya atas inisiatif pribadi dan menggunakan biaya sendiri tanpa adanya intimidasi atau pengawalan dari aparat TNI. “Saya naik pesawat komersial biasa, bukan pesawat jet pribadi atau helikopter milik pengusaha, dan tidak ada yang menjemput saya,” ujarnya kepada wartawan. Ia juga menegaskan selama di Jakarta bebas melakukan aktivitas seperti biasa, termasuk beribadah di gereja dan makan di warung kaki lima tanpa ada pembatasan atau tekanan dari pihak manapun.
Dalam laporan resmi yang diterima Polda Metro Jaya dengan nomor register LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya, Mama Sinta membawa persoalan pencatutan data pribadinya dalam film tersebut ke ranah hukum. Kuasa hukumnya menyatakan pelaporan ditujukan kepada Ketua LBH Merauke berinisial JTW sebagai bentuk penegakan keadilan.
Meski ada perbedaan pandangan antara keluarga dan Mama Sinta sendiri terkait perjalanan dan kondisi selama di Jakarta, keduanya sepakat bahwa isu intimidasi dan penggunaan fasilitas mewah seperti pesawat pribadi tidak benar dan merupakan provokasi yang dapat merugikan perjuangan hak adat Papua.
Keluarga hilang kontak dengan Yasinta Moiwend sebelum muncul di Polda Metro juga diwarnai kekhawatiran mendalam akan keselamatan tokoh adat tersebut. Namun, setelah muncul di Polda Metro, Mama Sinta meyakinkan bahwa dirinya aman dan tetap fokus pada perjuangan hak-hak masyarakat adat Papua.
Situasi ini menggambarkan kompleksitas isu yang dihadapi oleh para pejuang adat di Papua, di mana dinamika politik dan sosial seringkali memunculkan berbagai spekulasi yang sulit dibedakan antara fakta dan opini. Keluarga hilang kontak dengan Yasinta Moiwend sebelum muncul di Polda Metro menimbulkan perhatian luas akan perlunya pengawalan dan perlindungan terhadap tokoh adat yang memperjuangkan hak-hak masyarakatnya.
Dengan tegas, Mama Sinta meminta masyarakat Papua agar tidak mengkhawatirkan kondisinya dan tetap mendukung perjuangan yang dilakukannya secara mandiri dan bebas tanpa tekanan. Ia juga menegaskan bahwa dirinya telah melakukan perjalanan ke Jakarta sebanyak tujuh kali sehingga mengetahui medan dan tidak mudah diintimidasi.
Keluarga hilang kontak dengan Yasinta Moiwend sebelum muncul di Polda Metro menjadi sebuah narasi yang menarik perhatian publik, namun yang terpenting adalah memastikan keselamatan dan kebebasan tokoh adat tersebut dalam memperjuangkan hak dan martabat masyarakat adat Papua.
Dalam perjalanan ke depan, perlu adanya transparansi dan komunikasi yang terbuka antara tokoh adat, keluarga, dan aparat keamanan agar tidak terjadi kesalahpahaman dan spekulasi yang merugikan semua pihak. Perjuangan terhadap hak adat harus dilakukan dengan cara damai dan saling menghormati agar aspirasi masyarakat Papua dapat tersampaikan dengan baik.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan