Kemenkes Ungkap Penyebab Tingginya Konsumsi Tembakau di Kalangan Pelajar

Media Kampung – Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) baru-baru ini mengungkap penyebab tingginya konsumsi tembakau di kalangan pelajar Indonesia. Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 20 persen pelajar berusia 13-17 tahun masih menggunakan produk tembakau, sebuah angka yang menjadi tantangan besar dalam pengendalian rokok khususnya pada kelompok usia muda.

Regulasi Sudah Lengkap, Namun Penegakan Kurang Optimal

Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menegaskan bahwa regulasi pengendalian tembakau di Indonesia sebenarnya sudah sangat banyak dan komprehensif. Namun, masalah utama yang dihadapi adalah kurangnya penegakan hukum di lapangan.

“Regulasinya sudah sangat banyak, tetapi law enforcement atau penegakan aturannya masih kurang,” ujar Nadia dalam sebuah perbincangan bersama Pro 3 RRI pada Minggu, 31 Mei 2026. Contohnya adalah pelanggaran kawasan tanpa rokok yang masih sering ditemukan di berbagai tempat.

Faktor Menarik Produk Tembakau bagi Pelajar

Kemenkes ungkap penyebab tingginya konsumsi tembakau di kalangan pelajar tidak hanya soal regulasi yang belum ditegakkan dengan baik, tetapi juga faktor daya tarik produk tembakau itu sendiri terhadap remaja. Kemasan rokok yang menarik dengan beragam varian rasa menjadi pemicu utama rasa penasaran pelajar untuk mencoba rokok.

“Banyak negara sudah menerapkan kemasan polos, sedangkan kita masih memiliki kemasan yang beragam dan menarik,” jelas Nadia. Kondisi kemasan yang berwarna-warni dan varian rasa yang beragam ini dinilai berpotensi menarik minat generasi muda untuk mencoba dan kemudian terus mengonsumsi rokok.

Harga Rokok yang Relatif Murah

Selain kemasan, harga rokok yang masih relatif murah di Indonesia juga menjadi penyebab tingginya konsumsi tembakau di kalangan pelajar. Nadia menambahkan, kenaikan harga rokok dapat menjadi salah satu langkah efektif untuk menekan konsumsi terutama di kalangan usia muda.

“Kalau harga rokok berkisar Rp75 ribu sampai Rp100 ribu, itu dapat mengubah perilaku masyarakat untuk mengurangi merokok,” ujarnya. Namun, Nadia juga menegaskan bahwa kebijakan harga harus didukung dengan langkah pengendalian lainnya agar efektif.

Upaya Pengendalian Lainnya

Pemerintah telah menetapkan larangan penjualan rokok ketengan dan penjualan rokok dalam radius 200 meter dari sekolah. Aturan ini diharapkan dapat mengurangi akses pelajar terhadap produk tembakau dan meminimalisir penyebaran rokok di lingkungan sekolah.

Namun, tantangan baru muncul dari promosi rokok di ruang digital. Nadia menyampaikan keprihatinannya terhadap konten media sosial yang menampilkan produk rokok atau vape, yang kerap dilakukan oleh influencer dan dapat memengaruhi persepsi anak dan remaja.

“Kita masih melihat influencer yang menampilkan produk rokok atau vape di media sosial,” ungkap Nadia. Paparan semacam ini bisa mendorong ketertarikan pelajar terhadap tembakau, sehingga menjadi tantangan baru dalam pengendalian konsumsi rokok di kalangan pelajar.

Perlunya Kolaborasi untuk Melindungi Generasi Muda

Kemenkes ungkap penyebab tingginya konsumsi tembakau di kalangan pelajar sekaligus menekankan perlunya kolaborasi berbagai pihak dalam upaya perlindungan generasi muda. Pengendalian tembakau tidak cukup hanya dilakukan melalui regulasi, melainkan juga harus didukung dengan pengawasan ketat dan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat, khususnya pelajar.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 20 persen pelajar Indonesia berusia 13-17 tahun menggunakan produk tembakau, dan sekitar 12 persen di antaranya adalah pengguna aktif rokok. Angka ini menjadi alarm bagi semua pihak untuk lebih serius dalam mengatasi permasalahan konsumsi tembakau di kalangan pelajar.

Penanganan Komprehensif Diperlukan

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Kemenkes ungkap penyebab tingginya konsumsi tembakau di kalangan pelajar bersifat multifaktor. Mulai dari regulasi yang belum sepenuhnya ditegakkan, kemasan rokok yang masih menarik, harga rokok yang murah, hingga promosi di media sosial menjadi faktor utama yang mendorong tingginya angka konsumsi tembakau pada pelajar.

Oleh karena itu, penanganan yang komprehensif dengan melibatkan pemerintah, sekolah, keluarga, serta masyarakat luas sangat diperlukan untuk menekan konsumsi rokok di kalangan pelajar. Edukasi tentang bahaya rokok dan pengawasan ketat terhadap penjualan serta promosi produk tembakau harus terus ditingkatkan demi masa depan generasi muda Indonesia yang lebih sehat dan bebas dari ketergantungan tembakau.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.