Media Kampung – Ratusan santri di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, diduga mengalami keracunan MBG setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis yang disalurkan pada Sabtu, 18 April 2026.

Menurut data yang dihimpun oleh Puskesmas Kebonagung pada Minggu sore, lebih dari 150 orang melaporkan gejala keracunan, termasuk mual, muntah, dan pusing.

Kelompok paling rentan terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, yang secara resmi dikategorikan sebagai B3; lima orang dari kelompok ini dirujuk ke RSU PKU Muhammadiyah Gubug, sementara empat lainnya mendapatkan perawatan rawat jalan.

Data terbaru menunjukkan 97 santri dari Pondok Pesantren Asnawiyah, 68 santri dari Pondok Pesantren Bustanul Qur’an, 10 santri dari Ponpes Hidayatul Mubtadiin, dan 8 santri dari Ponpes Al Ma’arif telah mendapatkan penanganan medis.

Kepala Puskesmas Kebonagung, Arief Setiawan, menjelaskan, “Sebagian besar korban mengalami mual dan muntah, namun lima pasien yang sempat dirawat di puskesmas kini telah dipulangkan setelah kondisi stabil.”

Pengasuh Pondok Pesantren Asnawiyah, Cholilluah, menambahkan bahwa pada Minggu malam terdapat tambahan tujuh santri yang harus dirujuk ke rumah sakit karena gejala semakin berat.

Koordinator Wilayah SPPG Demak, Ali Muzani, mengungkapkan bahwa dapur SPPG Desa Pilangwetan menyalurkan sekitar 1.484 porsi MBG ke empat tempat pendidikan pada hari Sabtu.

Ali mencatat, dari total 550 porsi yang didistribusikan, 110 orang melaporkan gejala keracunan dan 95 orang dilarikan ke fasilitas kesehatan untuk perawatan intensif.

Pihak berwenang telah memasang garis polisi di sekitar dapur SPPG Pilangwetan serta menghentikan operasional sementara untuk mendukung proses investigasi.

Tim Dinas Kesehatan Kabupaten Demak bersama kepolisian setempat kini melakukan penelusuran bahan baku, prosedur penyajian, dan kemungkinan kontaminasi silang yang dapat memicu keracunan massal.

Seluruh korban yang masih berada di RSU PKU Muhammadiyah Gubug dilaporkan dalam kondisi stabil, dengan tim medis terus memantau tanda vital dan memberikan terapi suportif.

Penanganan lanjutan mencakup pemberian cairan intravena, antiemetik, serta observasi selama 24 jam untuk memastikan tidak muncul komplikasi lebih lanjut.

Pihak rumah sakit dan puskesmas juga menyediakan layanan konsultasi gizi bagi ibu hamil dan menyusui yang khawatir akan dampak jangka panjang dari paparan zat berbahaya.

Hingga kini, otoritas kesehatan masih menunggu hasil laboratorium yang diharapkan selesai dalam beberapa hari ke depan untuk mengidentifikasi penyebab pasti keracunan MBG.

Dengan proses investigasi yang masih berjalan, masyarakat diminta untuk melaporkan gejala serupa dan menghindari konsumsi makanan gratis yang belum terverifikasi keamanan keamanannya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.