Harga Telur Anjlok, Pemkab Blitar Minta Pemerintah Pusat Turun Tangan

Media Kampung – Harga telur di tingkat peternak di Blitar Raya mengalami penurunan drastis yang memicu keresahan bagi peternak mikro dan kecil. Harga Telur Anjlok, Pemkab Blitar Minta Pemerintah Pusat Turun Tangan sebagai upaya untuk mengatasi kondisi yang semakin sulit ini, mengingat harga telur kini berkisar antara Rp 20.600 hingga Rp 21.000 per kilogram, jauh di bawah harga acuan pemerintah. Sementara itu, harga pakan justru terus mengalami kenaikan, memperberat beban produksi peternak.

Situasi Berat bagi Peternak Mikro dan Kecil

Bupati Blitar, Rijanto, menyatakan pemerintah daerah terus memantau perkembangan harga telur yang saat ini tidak menguntungkan peternak. Menurutnya, jika kondisi ini berlangsung terus, banyak peternak kecil yang terancam gulung tikar. “Harga telur di kandang saat ini sekitar Rp 21.000 per kilogram, jauh di bawah biaya produksi karena kenaikan harga pakan serta dampak fluktuasi nilai dolar,” ungkapnya pada Senin (16).

Perwakilan peternak mikro kecil Blitar Raya, Suyanto, mengungkapkan kesulitan yang dihadapi peternak rakyat. Harga pakan yang naik dari sekitar Rp 370 ribu menjadi Rp 400 ribu hingga Rp 420 ribu per sak membuat harga pokok produksi (HPP) menjadi sekitar Rp 23 ribu per kilogram. Namun, harga jual telur hanya di kisaran Rp 20.600 sampai Rp 21.000, sehingga peternak mengalami kerugian sekitar Rp 2.000 per kilogram.

Usulan dan Harapan dari Pemerintah Daerah

Dalam upaya mengatasi masalah ini, pemerintah daerah mengusulkan agar pemerintah pusat segera merumuskan kebijakan perlindungan bagi peternak rakyat. Salah satu langkah yang diusulkan adalah optimalisasi penyerapan telur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Koperasi Desa Merah Putih. Dengan adanya penyerapan telur dari koperasi untuk program MBG, diharapkan stabilitas harga dapat lebih terjaga dan mengurangi praktik permainan harga oleh tengkulak.

Wakil Bupati Blitar, Beky Herdihansah, juga menegaskan pentingnya keterlibatan pemerintah pusat dalam menata harga telur sebagai komoditas strategis, sebagaimana dilakukan pada komoditas lain seperti gabah. “Kami akan terus berkomunikasi dengan pemerintah pusat agar penataan harga telur dapat dilakukan secara efektif,” tegasnya.

Ancaman dari Investor Besar dan Perlunya Intervensi Pemerintah

Suyanto menambahkan, selain tekanan dari harga yang jatuh dan biaya produksi yang tinggi, peternak rakyat juga khawatir dengan wacana masuknya investor besar di sektor ayam petelur. Hal ini dinilai dapat mengancam keberlangsungan usaha peternak mikro dan kecil yang selama ini menjadi tulang punggung produksi telur di Blitar Raya.

Tanpa adanya perlindungan dan intervensi dari pemerintah, banyak peternak rakyat yang berpotensi tidak mampu bertahan dalam kondisi pasar yang tidak stabil ini. Oleh karena itu, Harga Telur Anjlok, Pemkab Blitar Minta Pemerintah Pusat Turun Tangan menjadi seruan penting agar solusi segera ditemukan untuk menjaga keberlangsungan usaha peternak di daerah tersebut.

Harapan untuk Stabilitas Harga dan Perlindungan Peternak

Penurunan harga telur yang terjadi saat ini memberikan tekanan besar bagi peternak mikro dan kecil yang merupakan kelompok rentan dalam sektor peternakan. Kenaikan harga pakan yang signifikan semakin mempersempit margin keuntungan bahkan menyebabkan kerugian. Pemerintah daerah Blitar melalui Bupati dan Wakil Bupati terus mendorong agar pemerintah pusat turun tangan dengan kebijakan yang tepat untuk melindungi peternak rakyat dan menjaga stabilitas harga.

Optimalisasi penyerapan telur melalui program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis dan keterlibatan koperasi diharapkan menjadi solusi strategis untuk menjaga harga telur agar tidak jatuh terlalu rendah dan menghindari praktik harga yang merugikan peternak.

Dengan adanya perhatian serius dan kebijakan terintegrasi dari pemerintah pusat dan daerah, diharapkan usaha peternak mikro dan kecil di Blitar dapat terjaga dan terus berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.