Media Kampung – Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan bahwa dunia di ambang krisis akibat percepatan kenaikan permukaan laut yang mencapai dua kali lipat dalam satu dekade terakhir. World Ocean Assessment III (WOA III) mencatat laju kenaikan permukaan laut meningkat dari rata-rata 2 milimeter per tahun sebelum 2015 menjadi 4,3 milimeter per tahun pada 2023.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menekankan bahwa situasi ini tidak bisa lagi dianggap normal. “Kita tidak bisa terus memperlakukan laut sebagai sumber daya tak terbatas,” ujarnya dikutip dari kantor berita Anadolu, Kamis (11/6). Guterres menyerukan kolaborasi global yang berbasis sains dan hukum internasional untuk membangun hubungan baru dengan laut.
Penelitian WOA III melibatkan lebih dari 650 ahli dari puluhan negara yang menilai kondisi laut dunia periode 2021–2025. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 16 persen dari total peningkatan kandungan panas laut sejak 1955 terjadi hanya dalam kurun waktu 2018–2023. Para ahli menyebut tren ini sebagai percepatan yang berbahaya.
“Kenaikan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan ancaman nyata bagi jutaan penduduk pesisir dunia,” tim peneliti WOA III memperingatkan. Tanpa tindakan kolektif, samudra akan kehilangan kapasitasnya sebagai penyangga kehidupan.
Laporan tersebut juga menyoroti industri perikanan skala besar yang memperburuk kondisi, serta polusi plastik dan limbah industri yang menambah beban ekosistem. Dampaknya tidak hanya hilangnya keanekaragaman hayati, tetapi juga tekanan terhadap ekonomi dan sosial masyarakat pesisir.
Jika tren ini berlanjut, jutaan orang di wilayah pesisir akan menghadapi banjir rob, hilangnya lahan, dan krisis pangan akibat rusaknya ekosistem laut. Laporan WOA III menjadi peringatan keras bahwa waktu untuk bertindak semakin sempit.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan