Media Kampung – Semangat Pancasila yang digagas Presiden pertama RI Soekarno dinilai masih relevan untuk menjawab berbagai tantangan global saat ini, mulai dari krisis geopolitik, ketimpangan ekonomi, hingga polarisasi dan intoleransi. Pandangan ini mengemuka dalam Forum Praksis Seri ke-21 bertema ‘Bersama Bung Karno Kembali Mengobarkan Semangat Pancasila bagi Indonesia dan Dunia’ yang digelar PRAKSIS (Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesuit) bersama Yayasan Bung Karno di Jakarta, Sabtu (20/6).
Forum menghadirkan Mayjen Pol. (Purn.) Sidarto Danusubroto, mantan ajudan terakhir Bung Karno yang juga pernah menjabat Ketua MPR RI periode 2013-2014, serta diplomat madya Indonesia Sigit Aris Prasetyo sebagai narasumber. Diskusi dimoderatori oleh Susana Sunarno.
Pancasila Lahir dari Pergulatan Panjang Bung Karno
Sidarto Danusubroto menjelaskan bahwa Pancasila lahir dari pergulatan panjang Bung Karno dalam mencari dasar filosofis bagi Indonesia merdeka. Proses tersebut dimulai dari perenungan mendalam selama masa pengasingan di Ende, Nusa Tenggara Timur, sebelum akhirnya disampaikan secara resmi dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945. Dalam pidato bersejarah itu, Bung Karno mengusulkan lima prinsip: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.
“Momen ini secara resmi diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila,” kata Sidarto. Menurutnya, lahirnya Pancasila menjadi tonggak penting karena memberikan dasar filosofis sekaligus pandangan hidup bagi bangsa Indonesia yang selama berabad-abad hidup dalam penjajahan.
Pancasila di Panggung Internasional
Sidarto juga menyoroti peran Bung Karno dalam membawa Pancasila ke panggung internasional. Pada Sidang Umum PBB tanggal 30 September 1960, Bung Karno memperkenalkan Pancasila sebagai ideologi universal yang dapat menjadi rujukan bagi bangsa-bangsa di dunia. Ia mengajak negara-negara anggota PBB untuk mengakui dan mendukung negara-negara baru merdeka sebagai anggota setara dalam komunitas internasional.
“Konsep pemikiran Sukarno inilah yang mendorong negara-negara lain untuk lebih aktif berpartisipasi dalam menciptakan perdamaian dunia, yang terwujud dalam Gerakan Nonblok pada tahun 1961,” ujar Sidarto.
Relevansi Pancasila di Tengah Krisis Global
Sigit Aris Prasetyo menambahkan bahwa pidato Bung Karno di PBB memuat seruan kuat untuk mengakhiri kolonialisme dan mendorong dekolonisasi. Menurutnya, nilai-nilai Pancasila semakin penting di tengah situasi global saat ini, termasuk krisis geopolitik, kolonialisme terselubung, polarisasi sosial, intoleransi, ketimpangan ekonomi global, dan krisis kemanusiaan.
“Lebih dari delapan puluh tahun setelah lahirnya Pancasila, dunia justru menghadapi tantangan yang membuat nilai-nilainya makin penting,” ujar Sigit. Ia menilai Pancasila tidak hanya relevan bagi Indonesia, tetapi juga menawarkan seperangkat nilai yang dapat berkontribusi membangun tata dunia yang lebih damai, adil, dan manusiawi. “Kita terberkati dengan adanya Pancasila,” pungkasnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan