Media Kampung – Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) resmi memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kesepakatan ini diumumkan dalam konferensi pers di Gedung DPR RI pada Sabtu, 6 Juni 2026, dengan tujuan utama mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara maksimal.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa koordinasi yang erat antara sektor fiskal dan moneter sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi. Dua langkah utama yang disepakati adalah meningkatkan daya tarik imbal hasil investasi portofolio dan meminimalkan arus modal keluar akibat kenaikan suku bunga luar negeri. “Kami sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflows kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Perry.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berkomitmen mendukung penuh sinkronisasi kebijakan. Menurutnya, keselarasan kebijakan moneter dan fiskal akan memberikan dampak positif langsung ke perekonomian. “Kita akan mendukung bank sentral untuk memperkuat koordinasi supaya kebijakan sinkron, sehingga dampaknya lebih signifikan,” kata Purbaya. Ia berharap stabilitas rupiah dapat meringankan beban pelaku usaha kecil yang terdampak kenaikan harga bahan baku impor, seperti penjual tempe dan tahu.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengapresiasi dukungan DPR RI dalam memfasilitasi koordinasi ini. Ia menekankan pentingnya sinergi seluruh pemangku kepentingan ekonomi untuk menjaga stabilitas moneter dan fiskal. Pemerintah, kata Prasetyo, terus mendorong program-program percepatan sektor ekonomi riil, terutama di bidang pangan, energi, perikanan, serta industrialisasi dan hilirisasi. “Indikator menunjukkan ekonomi kita cukup kuat, tetapi pemerintah harus terus mendorong pertumbuhan sektor riil,” tutupnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan