Media Kampung – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin aktif melakukan dialog dengan Pengurus Wilayah NU (PWNU), Pengurus Cabang NU (PCNU), dan para kiai di berbagai daerah. Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan pencalonannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar NU (PBNU).

Serap Aspirasi dan Sampaikan Visi

Gus Rozin mengunjungi sejumlah wilayah seperti Bengkulu, Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara untuk berdialog dan menyerap aspirasi dari bawah. Ia menekankan bahwa pencalonan Ketua Umum PBNU bukan sekadar kontestasi jabatan, melainkan momentum untuk mempertemukan gagasan dan mencari solusi atas persoalan organisasi.

Baca juga:

Gagasan Utama Gus Rozin

  • Membangun Poros Tengah: Merawat ukhuwah dan mengakhiri polarisasi internal NU dengan mengedepankan musyawarah dan persaudaraan.
  • Memperkuat NU sebagai Rumah Besar Masyarakat Sipil Keagamaan: Menjaga akar sosial NU yang kuat melalui pesantren, madrasah, majelis taklim, dan jaringan sosial ekonomi warga tanpa kehilangan fungsi kontrol sosial terhadap pemerintah.
  • Mendorong Kemandirian dan Kedaulatan NU: Memanfaatkan kekuatan jamaah yang tersebar di seluruh tingkatan organisasi, mengelola aset, mengembangkan ekonomi jamaah, memperkuat pendidikan dan teknologi, serta menumbuhkan budaya gotong royong.

Menjaga Persatuan dan Peran NU

Gus Rozin mengingatkan bahwa perbedaan pandangan adalah hal wajar, tetapi tidak boleh menimbulkan polarisasi yang melemahkan NU. Poros tengah yang diusungnya bertujuan meredakan ketegangan dan mengembalikan NU pada fokus ukhuwah Nahdliyah serta keberlanjutan khidmah jam’iyyah. Ia juga menegaskan pentingnya NU tetap menjadi sahabat pemerintah yang mampu memberikan dukungan sekaligus kritik yang konstruktif demi kepentingan masyarakat.

Persiapan NU Menghadapi Abad Kedua

Memasuki abad kedua, NU menghadapi tantangan kompleks dari perubahan teknologi, sosial, ekonomi, dan politik. Gus Rozin menekankan perlunya kepemimpinan yang mampu menggabungkan tradisi keulamaan dan kebutuhan perubahan zaman. NU harus tetap berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat bagi jamaah serta masyarakat luas.

Baca juga:

Muktamar NU ke-35 sebagai Momentum Strategis

Menurut Gus Rozin, Muktamar NU ke-35 harus lebih dari sekadar memilih pemimpin baru. Forum ini harus menjadi tempat merumuskan arah organisasi, memperkuat persatuan, dan menentukan strategi menghadapi tantangan masa depan. Semua proses harus berlandaskan ukhuwah Nahdliyah agar tujuan utama NU sebagai jam’iyyah yang mengemban amanah keagamaan dan sosial tetap terjaga.

Berdaulat, Bermartabat, dan Bermanfaat

Gagasan Gus Rozin dirangkum dalam tiga kata kunci utama:

Baca juga:
  • Berdaulat: NU mampu mengelola organisasi dan aset secara profesional serta membuat kebijakan independen sesuai kepentingan jamaah dan masyarakat.
  • Bermartabat: Menjaga marwah ulama, tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, dan integritas kepemimpinan serta persatuan internal.
  • Bermanfaat: Memberikan dampak nyata melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi, layanan sosial, ilmu pengetahuan, dan advokasi masyarakat.

Arah Transformasi NU dari Aspirasi Daerah

Dari dialog dengan PWNU dan PCNU, Gus Rozin menyerap berbagai persoalan penting seperti penguatan ranting dan MWCNU, kaderisasi, pesantren, ekonomi jamaah, tata kelola organisasi, digitalisasi, dan hubungan NU dengan pemerintah. Aspirasi ini menjadi bahan rumusan arah transformasi NU ke depan agar organisasi semakin kuat dan relevan.

Dengan pendekatan yang inklusif dan komunikatif, Gus Rozin berharap NU dapat terus berkembang sebagai organisasi keagamaan yang mandiri, berdaulat, dan memberikan manfaat luas bagi jamaah serta bangsa Indonesia.