Media Kampung – Kediri – Upaya membangun masyarakat yang lebih ramah terhadap penyandang disabilitas mental dan psikososial terus diperkuat. Salah satunya melalui peluncuran buku Fikih Penguatan Disabilitas Mental Psikososial yang digelar di Teras Gubuk Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kabupaten Kediri, bertepatan dengan rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama, Minggu, 21 Juni 2026.
Momentum Perubahan Paradigma
Kehadiran buku tersebut menjadi tonggak penting dalam pengembangan kajian fikih yang lebih responsif terhadap persoalan kemanusiaan kontemporer. Tidak hanya membahas aspek hukum keagamaan, buku ini juga menawarkan pandangan yang menempatkan penyandang disabilitas sebagai subjek yang memiliki hak, kesempatan, dan kedudukan yang setara dalam kehidupan sosial.
Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf atau Gus Ipul yang hadir dalam peluncuran buku tersebut menegaskan, bahwa fikih sejatinya merupakan instrumen untuk memahami realitas kehidupan secara mendalam dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
“Fikih dalam tradisi Islam bukan hanya berbicara tentang halal dan haram atau sah dan batal. Fikih adalah upaya memahami persoalan kehidupan dengan perspektif keadilan yang diajarkan syariat,” ujar Gus Ipul.
Menurutnya, buku tersebut lahir dari proses panjang yang melibatkan banyak elemen, mulai dari ulama Nahdlatul Ulama, Komisi Nasional Disabilitas (KND), Lemarkus, hingga P3M. Kolaborasi lintas sektor itu menghasilkan sebuah panduan yang diharapkan mampu memperluas kesadaran masyarakat tentang pentingnya penghormatan terhadap hak-hak penyandang disabilitas.
Ia menekankan, bahwa paradigma yang selama ini berkembang perlu diubah. Penyandang disabilitas tidak seharusnya dipandang sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai warga negara yang memiliki martabat yang sama dan berhak memperoleh akses serta kesempatan yang setara.
“Kita tidak boleh meremehkan, mengabaikan, apalagi melakukan perundungan terhadap mereka. Ini bagian dari tanggung jawab bersama untuk menciptakan lingkungan yang inklusif,” katanya.
Gus Ipul juga mengingatkan tentang pentingnya pelaksanaan ketentuan mengenai kuota tenaga kerja bagi penyandang disabilitas sebagaimana diatur dalam regulasi nasional. Menurutnya, kebijakan afirmatif tersebut harus benar-benar diwujudkan agar kesetaraan tidak berhenti pada tataran wacana.
Pesantren sebagai Ruang Inklusif
Semangat serupa disampaikan oleh Putra Pengasuh Ponpes Al-Falah Ploso, KH Abdurrahman Kautsar atau Gus Kautsar. Ia menilai, isu disabilitas mental dan psikososial masih memerlukan perhatian lebih besar dari berbagai kalangan, termasuk lembaga pendidikan keagamaan.
Ia mengakui, selama ini pembahasan mengenai disabilitas sering kali lebih terfokus pada aspek fisik. Padahal, persoalan kesehatan mental dan psikososial juga menjadi tantangan nyata yang banyak ditemukan di tengah masyarakat.
“Tantangan terbesar kita adalah bagaimana santri nantinya mampu hadir sebagai pemberi solusi. Kegiatan ini membuka wawasan bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat sangat beragam, termasuk masalah kesehatan mental yang semakin banyak ditemui,” kata Gus Kautsar.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pesantren harus mampu berkembang menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga tempat tumbuhnya nilai-nilai kepedulian sosial dan penghormatan terhadap kemanusiaan.
Dalam kesempatan ini, Gus Kautsar turut mengulas sejumlah kisah ulama besar yang tetap memberikan kontribusi luar biasa meskipun hidup dengan berbagai keterbatasan. Menurutnya, dukungan keluarga dan lingkungan menjadi faktor penting yang memungkinkan mereka berkembang dan memberi manfaat bagi umat.
“Banyak tokoh besar lahir dari lingkungan yang percaya pada kemampuan mereka. Karena itu, pesantren harus menjadi tempat yang memberikan dukungan dan kesempatan bagi siapa pun untuk berkembang,” katanya.
Diskusi dan Harapan ke Depan
Peluncuran buku yang dipandu oleh Abi S. Nugroho tersebut juga menghadirkan K.H. Mahbub Maafi, M.A., dan Agus Hasan Hidayat sebagai narasumber. Diskusi yang berlangsung hangat menyoroti masih minimnya pemahaman masyarakat mengenai disabilitas mental dan psikososial. Kurangnya literasi dan keterbatasan sumber daya manusia kerap menyebabkan penanganan yang tidak tepat terhadap penyandang disabilitas.
Karena itu, kehadiran buku ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi keluarga, pendidik, tokoh agama, hingga pengambil kebijakan dalam membangun pendekatan yang lebih tepat dan manusiawi.
Kementerian Sosial juga menegaskan komitmennya untuk terus memperluas layanan rehabilitasi dan pendampingan psikososial. Berbagai program yang dijalankan diarahkan untuk meningkatkan kemandirian penyandang disabilitas agar mampu menjalani kehidupan sosial secara optimal.
Dari lingkungan pesantren di Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri, sebuah pesan penting kembali digaungkan, bahwa penghormatan terhadap martabat manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari ajaran agama. Kesetaraan, penghargaan, dan kepedulian menjadi fondasi utama dalam membangun masyarakat yang inklusif bagi semua.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan