Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Jumat (24/7/2026) tercatat melemah sebesar 1,88 persen ke level 6.196,43. Penurunan ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen negatif, mulai dari kebijakan tarif impor baru Amerika Serikat (AS), konflik geopolitik di Timur Tengah, hingga kekhawatiran inflasi global yang meningkat.

Investor mencermati kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menetapkan tarif impor baru sebesar 10-12,5 persen terhadap 60 negara mitra dagang, termasuk Indonesia. Tarif ini diberlakukan sebagai respons terhadap negara yang dianggap lemah dalam menegakkan larangan terhadap produk yang dibuat menggunakan tenaga kerja paksa, sehingga menimbulkan ketidakpastian bagi pasar global dan berpotensi mengganggu rantai pasokan.

Baca juga:

Selain itu, konflik yang memanas di Timur Tengah kembali mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia di atas US$ 100 per barel. Kenaikan harga minyak ini memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, yang kemudian berdampak negatif pada pasar saham, termasuk IHSG.

Data perdagangan menunjukkan sebanyak 587 saham melemah, 104 saham menguat, dan 105 saham stagnan. Indeks saham unggulan LQ45 juga turun 1,97 persen ke level 614,79. Sektor saham mengalami tekanan luas dengan penurunan terbesar terjadi pada sektor consumer siklikal sebesar 3,04 persen. Sektor energi dan basic industry juga melemah signifikan masing-masing 2,82 persen dan 3,02 persen.

Baca juga:

Saham perbankan yang sebelumnya sempat menguat karena keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen, akhirnya ikut terkoreksi akibat aksi ambil untung (profit taking) dan tekanan dari investor asing yang masih melakukan net sell. Saham-saham bank besar seperti Bank Mandiri (BMRI) turun 5,71 persen, Bank BRI (BBRI) turun 1 persen, dan Bank BNI (BBNI) turun 2,22 persen pada penutupan perdagangan.

Meski demikian, fundamental sektor perbankan masih dinilai positif dengan pertumbuhan kredit dan laba yang meningkat pada semester pertama tahun 2026. Namun, volatilitas dan pergerakan teknikal saham masih akan berlanjut seiring sentimen global dan laporan kinerja yang akan diumumkan.

Baca juga:

Investor juga diingatkan untuk mencermati agenda rapat The Federal Reserve AS pada 28–29 Juli 2026, yang menjadi kunci dalam menentukan arah kebijakan suku bunga global ke depan. Kondisi nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS, serta tren harga minyak dunia juga akan menjadi faktor penting dalam dinamika pasar saham Indonesia dalam waktu dekat.

Secara keseluruhan, IHSG melemah akibat kombinasi faktor eksternal yang membebani pasar, termasuk tarif impor baru AS, ketegangan geopolitik, dan kekhawatiran inflasi yang mendorong ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini memicu aksi jual secara luas di berbagai sektor, meskipun beberapa saham unggulan masih menunjukkan potensi untuk penguatan pada masa mendatang.