Media Kampung – PSI Balas Sindiran PDIP soal Jokowi, Sebut Efek Ekor Jas Dulu Mengalir ke Banteng menjadi headline utama dalam dinamika politik terkini, setelah Ketua DPP PSI Bestari Barus menanggapi kritikan Guntur Romli dari PDIP. Pernyataan ini menambah ketegangan antara dua partai besar, sekaligus menyoroti peran mantan presiden dalam lanskap pemilihan 2024.
Latar Belakang Sindiran PDIP
Guntur Romli, politikus PDIP, sebelumnya menyindir rencana Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadi Ketua Dewan Pembina PSI. Ia menilai bahwa posisi tersebut tidak akan mengubah nasib PSI yang gagal masuk parlemen pada Pemilu 2024. “Secara logika sederhana saja, ketika Jokowi menjadi presiden tidak mampu meloloskan PSI ke parlemen, apalagi sekarang tidak berwenang apa-apa,” ujar Romli dalam sebuah wawancara.
Respons PSI dan Penegasan Bestari Barus
Menanggapi, Bestari Barus menegaskan bahwa selama menjabat, Jokowi memang tidak pernah secara terbuka mendukung PSI. Ia menyebut sikap Jokowi sebagai tindakan negarawan yang menjaga stabilitas politik nasional. “Karena beliau tidak ingin memperlihatkan keberpihakan politik secara langsung, efek ekor jas dulu mengalir ke banteng, yakni PDIP, yang pada saat itu menjadi partai utama,” kata Bestari pada Kamis (285).
Bestari menambahkan bahwa kritik PDIP tidak sepenuhnya tepat. Kegagalan PSI masuk parlemen tidak serta merta mencerminkan lemahnya pengaruh Jokowi. Justru, ia berpendapat, efek elektoral Jokowi masih menguntungkan PDIP sebagai partai lama yang pernah menaungi mantan Wali Kota Solo, sehingga “efek ekor jas” pada masa lalu berbalik mengalir ke banteng.
Perubahan Sikap Jokowi dan Dampaknya
Menurut Bestari, situasi kini berbeda karena Jokowi telah menunjukkan niat terbuka untuk membantu PSI. Ia berulang kali menyatakan kesediaannya turun membantu partai tersebut, yang diyakini dapat meningkatkan elektabilitas PSI ke depan. Bestari menilai bahwa pemilih “silent voters” mulai memperhatikan perubahan arah politik Jokowi dan mengaitkannya dengan PSI.
“Bahkan silent voters pun mulai bergeming, berpikir ‘Oh ternyata Pak Jokowi sekarang sudah PSI’,” ungkapnya. Pernyataan ini menandakan potensi pergeseran dukungan pemilih yang sebelumnya netral atau tidak terdeteksi.
Implikasi bagi Persaingan Pemilu 2024
- Kekuatan Koalisi: Jika Jokowi benar-benar menjadi Ketua Dewan Pembina PSI, partai tersebut dapat memanfaatkan jaringan dan popularitas mantan presiden untuk memperluas basis pemilih.
- Strategi PDIP: Sindiran Guntur Romli mungkin dimaksudkan untuk menegaskan kedudukan PDIP sebagai partai utama, sekaligus mengingatkan PSI bahwa dukungan politik tidak semata-mata bergantung pada figur tunggal.
- Pengaruh “Efek Ekor Jas”: Istilah ini menggambarkan fenomena di mana dukungan atau popularitas seorang tokoh politik beralih ke partai lain setelah masa jabatan berakhir. Dalam konteks ini, Bestari menyatakan bahwa efek tersebut dulu mengalir ke banteng (PDIP), namun kini berpotensi mengalir ke PSI.
Reaksi Publik dan Analisis Pengamat
Pengamat politik menilai bahwa pernyataan Bestari Barus sekaligus menyoroti dinamika internal PDIP yang kini harus bersaing tidak hanya dengan partai-partai tradisional, tetapi juga dengan partai baru yang didukung figur-figur tinggi. Mereka mencatat bahwa pergeseran dukungan “efek ekor jas” dapat memperkaya pilihan pemilih, namun juga menambah kompleksitas aliansi politik menjelang pemilihan.
Sejumlah komentar di media sosial memperlihatkan dukungan bagi PSI, sementara sebagian lainnya tetap skeptis terhadap peran Jokowi yang kini tidak lagi memegang jabatan negara. Namun, tren “silent voters” yang mulai terbuka dapat menjadi faktor penentu dalam pemilu mendatang.
Kesimpulan
Ketegangan antara PSI dan PDIP semakin memanas setelah PSI Balas Sindiran PDIP soal Jokowi, Sebut Efek Ekor Jas Dulu Mengalir ke Banteng. Respons Bestari Barus menegaskan bahwa peran Jokowi sebagai negarawan tetap relevan, meski tidak secara eksplisit mendukung partai manapun. Pergeseran dukungan politik yang diidentifikasi sebagai “efek ekor jas” kini menjadi sorotan utama, menandai potensi perubahan besar dalam lanskap politik Indonesia menjelang Pemilu 2024.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan