Media Kampung – 08 April 2026 | Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyelenggarakan perayaan Paskah pada akhir pekan lalu di sebuah aula serbaguna Jakarta.
Acara tersebut dihadiri oleh tokoh partai, kader, serta perwakilan berbagai organisasi keagamaan.
Grace Natalie, ketua Umum PSI, membuka pertemuan dengan menegaskan pentingnya menjaga toleransi dalam ruang politik.
Ia menambahkan bahwa perayaan keagamaan dapat menjadi momentum memperkuat persatuan bangsa.
Dalam pidatonya, Grace menyoroti peran kader PSI yang berasal dari latar belakang agama berbeda.
Ia mengajak mereka untuk berkontribusi aktif dalam proses legislasi dan kebijakan publik.
“Kita harus menjadi contoh bahwa perbedaan iman tidak menghalangi kerja bersama demi kepentingan rakyat,” ujar Grace.
Perayaan dimulai dengan ibadah bersama yang dipimpin oleh pemuka agama Kristen, Katolik, dan Protestan.
Setelah ibadah, peserta bersama-sama menikmati hidangan tradisional yang disiapkan oleh relawan partai.
Acara selanjutnya diisi dengan diskusi panel yang membahas tantangan toleransi di era digital.
Panel tersebut menghadirkan akademisi, aktivis, serta perwakilan LSM yang berfokus pada kerukunan umat beragama.
Diskusi menghasilkan rekomendasi konkret, termasuk peningkatan pendidikan multikultural di sekolah negeri.
Grace menekankan bahwa rekomendasi itu harus diimplementasikan melalui kebijakan yang inklusif.
Ia juga menegaskan bahwa PSI berkomitmen menempatkan kader yang mewakili keberagaman agama dalam jajaran kepemimpinan.
“Kita tidak boleh mengisolasi satu golongan; semua suara harus didengar,” tegasnya.
Pernyataan tersebut mendapat sambutan positif dari para peserta yang menilai langkah PSI relevan dengan dinamika sosial saat ini.
Beberapa kader PSI mengungkapkan rasa bangga dapat berpartisipasi dalam perayaan yang mengedepankan nilai kebhinekaan.
Seorang kader yang tidak ingin disebutkan namanya menyatakan, “Saya merasa dihargai sebagai warga negara yang beragama.”
Acara juga menampilkan penampilan musik rohani yang menambah suasana khidmat dan bersatu.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga jam dan berakhir dengan doa bersama.
Doa ditutup dengan harapan agar seluruh elemen politik Indonesia dapat meneladani semangat toleransi.
Setelah perayaan, Grace mengingatkan kembali pentingnya aksi nyata di lapangan, bukan sekadar wacana.
Ia menugaskan tim khusus PSI untuk merumuskan program kerja yang menitikberatkan pada kerukunan antarumat beragama.
Program tersebut dijadwalkan akan diluncurkan pada kuartal berikutnya menjelang pemilihan umum.
Para pengamat politik menilai inisiatif PSI ini dapat memperkuat citra partai di mata pemilih yang mengutamakan nilai toleransi.
Namun, mereka juga mengingatkan tantangan implementasi kebijakan di tengah polarisasi politik nasional.
Grace menanggapi hal tersebut dengan menegaskan bahwa PSI tidak akan mundur dari komitmen yang telah diambil.
“Kami siap menghadapi tantangan, karena toleransi adalah landasan kebangsaan,” pungkasnya.
Acara perayaan Paskah PSI ini mencerminkan upaya partai untuk mengintegrasikan nilai keagamaan dalam agenda politik.
Dengan melibatkan kader beragam agama, PSI berharap dapat menumbuhkan budaya politik yang lebih inklusif.
Ke depan, partai berencana memperluas program serupa ke wilayah lain, termasuk daerah dengan keragaman etnis tinggi.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat jaringan kader PSI dan meneguhkan posisi partai sebagai agen perubahan.
Secara keseluruhan, perayaan Paskah ini menandai komitmen PSI dalam merawat toleransi sebagai nilai utama dalam politik Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.













