Media Kampung, Serang – Safei, warga Kampung Babakan, Kecamatan Tunjung Teja, Kabupaten Serang, telah menjadikan cuci darah sebagai bagian dari rutinitas hidup demi menjaga kesehatan dan harapan bersama keluarga. Setelah awalnya diliputi ketakutan terhadap terapi hemodialisis akibat gagal ginjal yang dideritanya, Safei kini menjalani cuci darah dua kali setiap minggu dengan kondisi tubuh yang relatif stabil.
Adaptasi Terhadap Cuci Darah
Safei mulai menjalani terapi cuci darah sejak 2017. Pada awalnya, berbagai cerita menakutkan membuatnya ragu dan cemas mengenai manfaat dan proses pengobatan tersebut. Namun, seiring waktu, ia mulai terbiasa dan memandang terapi ini sebagai cara untuk menjaga kebugaran tubuh agar tetap sehat.
“Setelah saya jalani, ternyata biasa saja,” ungkap Safei. Pengalaman ini menunjukkan bagaimana pemahaman langsung terhadap prosedur medis dapat mengubah persepsi negatif menjadi penerimaan dan optimisme.
Pelayanan Rumah Sakit dan Peran BPJS Kesehatan
Safei menjalani cuci darah di Rumah Sakit Kartini, yang memberikan pelayanan tanpa membedakan status peserta BPJS Kesehatan. Sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI), Safei merasa mendapat pelayanan ramah dan layaknya keluarga.
Case Manager Rawat Inap Rumah Sakit Kartini, Suhartini, menegaskan bahwa penanganan pasien didasarkan pada tingkat kegawatdaruratan dan kebutuhan medis, tanpa diskriminasi. Hal ini penting untuk memastikan pasien dengan penyakit kronis seperti gagal ginjal mendapatkan perawatan sesuai kebutuhan.
Keberadaan BPJS Kesehatan sangat krusial bagi Safei. Dengan biaya pengobatan yang bisa mencapai sekitar Rp2 juta per sesi jika harus mandiri, BPJS memberikan kemudahan akses layanan tanpa beban biaya tambahan untuk cuci darah dan obat-obatan terkait. Safei mengakui tanpa program ini, dirinya akan kesulitan membiayai pengobatan secara rutin.
Manfaat Program Jaminan Kesehatan Nasional
Cuci darah yang harus dijalani dua kali setiap minggu membutuhkan kesinambungan dan dukungan agar terapi efektif. Rumah sakit terus memberikan pelayanan terbaik untuk mendukung proses penyembuhan pasien gagal ginjal kronis (CKD).
Safei juga menyadari pentingnya gotong royong seluruh peserta BPJS Kesehatan untuk menjaga keberlangsungan program JKN. Ia berterima kasih kepada masyarakat yang aktif membayar iuran sehingga manfaat dapat dirasakan oleh peserta dengan kondisi ekonomi terbatas seperti dirinya.
“BPJS Kesehatan bukan sekadar kartu, melainkan kesempatan untuk terus berobat dan berkumpul dengan keluarga,” ujar Safei. Harapannya, program ini tetap hadir dan terus membantu masyarakat yang membutuhkan akses kesehatan.
Kesimpulan
Perjalanan Safei dari ketakutan terhadap cuci darah hingga menjadikannya rutinitas hidup menunjukkan pentingnya edukasi, pelayanan kesehatan yang inklusif, dan peran BPJS Kesehatan dalam memberikan akses perawatan bagi pasien gagal ginjal. Program JKN menjadi jembatan harapan bagi mereka yang menghadapi penyakit kronis dan keterbatasan ekonomi, memastikan mereka dapat terus menjalani terapi dengan nyaman dan terjangkau.













Tinggalkan Balasan