Media Kampung – Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan perbaruan gencatan senjata Israel-Lebanon yang disepakati kedua negara melalui perundingan yang dimediasi Washington. Namun, kelompok Hizbullah menolak kesepakatan tersebut dan menyebut perundingan sia-sia.

Kesepakatan itu mencakup pembentukan zona keamanan percontohan di Lebanon yang melarang keberadaan anggota Hizbullah. Kelompok tersebut diwajibkan menghentikan serangan terhadap Israel dan menarik diri dari wilayah antara perbatasan Israel di Lebanon selatan.

Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, mengklaim kesepakatan itu ditolak banyak warga Lebanon dan hanya akan menguntungkan pihak lawan. Keraguan juga muncul di kalangan warga Beirut selatan yang merupakan basis kuat Hizbullah. Mereka menilai gencatan senjata hanya berhasil jika dipatuhi semua pihak.

Presiden AS Donald Trump mengatakan telah berbicara dengan kedua pihak dan melihat adanya kemajuan. Sementara itu, Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan gencatan senjata bisa diterapkan dalam 24 jam setelah semua pihak setuju.

Perwakilan Israel dan Lebanon dijadwalkan kembali bertemu pada 22 Juni untuk membahas kesepakatan yang lebih komprehensif. Amerika Serikat juga akan membantu pembentukan zona keamanan yang sepenuhnya di bawah kendali Angkatan Bersenjata Lebanon.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.