Media Kampung – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Senin (22/6/2026). Mata uang Garuda melemah 39 poin atau 0,22 persen ke level Rp17.843 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.804 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh pernyataan agresif Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kembali mengguncang sentimen pasar global.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai bahwa pernyataan Trump mengenai potensi aksi militer di Lebanon menjadi katalis negatif. Trump memperingatkan Iran untuk mengendalikan kelompok Hizbullah, atau AS akan mengambil tindakan militer tambahan. Ketidakpastian ini mendorong investor untuk memburu dolar AS sebagai aset safe haven, sehingga menekan rupiah dan mata uang emerging market lainnya.
Di sisi lain, perkembangan diplomatik antara AS dan Iran justru memberikan sedikit angin segar. Wakil Presiden AS JD Vance membuka babak baru pembicaraan dengan perwakilan Iran di Swiss. Dalam pertemuan tersebut, Iran disebut mendapatkan pengecualian ekspor minyak bumi dan petrokimia. Keputusan ini meredakan kekhawatiran pasar global terhadap pasokan energi dan menekan harga minyak mentah.
Putaran pertama perundingan AS-Iran telah selesai sejak Minggu (21/6/2026). Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari nota kesepahaman pekan lalu yang bertujuan memperpanjang gencatan senjata rapuh minimal 60 hari ke depan. Kementerian Luar Negeri Iran mengklaim adanya kemajuan positif, sementara mediator Qatar dan Pakistan mengonfirmasi tercapainya peta jalan kesepakatan yang lebih luas.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar global juga bersikap waspada menanti rilis data ekonomi penting Amerika Serikat pekan ini. Perhatian utama tertuju pada perkiraan terakhir Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I-2026 dan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE), yang merupakan ukuran inflasi pilihan Federal Reserve. Data ini akan menjadi petunjuk baru mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan.
Menariknya, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia justru mencatat pergerakan positif. Kurs referensi tersebut menunjukkan rupiah menguat ke level Rp17.819 per dolar AS, sedikit lebih baik dibanding posisi sebelumnya Rp17.826 per dolar AS. Perbedaan pergerakan antara pasar spot dan JISDOR mencerminkan dinamika pasar yang masih fluktuatif.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan negosiasi AS-Iran, data ekonomi AS, serta sikap pasar terhadap risiko geopolitik. Investor disarankan untuk tetap mencermati faktor-faktor tersebut dalam mengambil keputusan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan