Media Kampung – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mempersiapkan berbagai skenario untuk menjaga kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2027 menghadapi potensi lonjakan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) hingga mencapai USD 100 per barel.
Direktur Penyusunan APBN Kemenkeu, Rofyanto Kurniawan, menjelaskan bahwa pengalaman dari lonjakan harga minyak pada 2022 dan sepanjang 2026 akibat konflik di Timur Tengah menjadi pelajaran penting bagi pemerintah. Berbagai simulasi sudah disusun agar APBN tetap stabil meskipun harus menghadapi tekanan dari kenaikan harga energi.
Rofyanto menyatakan, pemerintah mengantisipasi dan melakukan efisiensi dengan menyiapkan skenario APBN jika ICP bergerak rata-rata di kisaran USD 100 per barel atau bahkan pada level lebih rendah sekitar USD 90 per barel. Untuk APBN 2026, asumsi ICP awal sebesar USD 70 per barel, namun perang di Timur Tengah sempat mendorong harga minyak melewati USD 100 per barel sehingga diperlukan langkah antisipasi lebih lanjut.
Meski saat ini harga minyak kembali turun di bawah USD 80 per barel, pemerintah memperkirakan rata-rata ICP sepanjang 2026 sekitar USD 83 per barel dan tetap menyiapkan simulasi menghadapi kemungkinan harga minyak naik lebih tinggi. Rofyanto menegaskan bahwa gejolak harga minyak memiliki dampak yang lebih signifikan terhadap kondisi APBN dibandingkan dengan pergerakan nilai tukar rupiah.
Setiap kenaikan ICP sebesar USD 1 diperkirakan menambah defisit APBN hingga Rp 6,8 triliun. Sebaliknya, pelemahan rupiah sebesar Rp 100 hanya berdampak menambah defisit sekitar Rp 0,8 triliun. Oleh sebab itu, fokus mitigasi lebih diarahkan pada fluktuasi harga minyak.
Pemerintah bersama DPR telah menyepakati rentang asumsi ICP untuk pembahasan awal APBN 2027 antara USD 70 hingga USD 95 per barel. Rentang ini mencerminkan ketidakpastian pasar minyak global sekaligus menjadi ruang antisipasi jika harga energi kembali naik.
Langkah-langkah mitigasi tersebut penting untuk menjaga stabilitas fiskal dan memastikan APBN tetap mampu mendukung pembangunan dan pelayanan publik meski menghadapi tekanan dari dinamika harga minyak dunia yang tidak menentu.












Tinggalkan Balasan