Media Kampung – Nilai tukar yen Jepang mengalami penguatan setelah intervensi bersama antara Jepang dan Amerika Serikat (AS) di pasar valuta asing untuk menahan pelemahan yen yang mencapai level terendah dalam 40 tahun terakhir. Namun, penguatan yen ini menyebabkan indeks saham Nikkei di Bursa Tokyo mengalami koreksi signifikan.
Intervensi bersama yang dilakukan pada akhir Juli, pertama kali dalam 15 tahun terakhir, berhasil menurunkan nilai tukar dolar AS terhadap yen yang sebelumnya menyentuh posisi terlemah sejak 1986, yakni di level sekitar 164 yen per dolar AS. Setelah intervensi, kurs dolar turun ke kisaran 155,20 yen, kemudian stabil di sekitar 156,47 yen pada perdagangan berikutnya.
Langkah terpadu ini diambil sebagai respons terhadap gejolak nilai tukar yang dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap kebijakan fiskal ekspansif pemerintah Jepang di bawah Perdana Menteri Sanae Takaichi. Program belanja besar-besaran dan ketidakpastian sumber pendanaan menyebabkan pelemahan yen yang berkelanjutan serta tekanan di pasar obligasi Jepang dengan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun mencapai level tertinggi hampir tiga dekade.
Wakil Menteri Keuangan Jepang, Atsushi Mimura, menegaskan bahwa pemerintah akan terus mengambil tindakan untuk meredam volatilitas nilai tukar yang berlebihan, menyebut intervensi terbaru sebagai penyempurnaan aliansi mata uang Jepang-AS. Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menambahkan bahwa kedua negara siap melakukan intervensi lanjutan jika diperlukan, disusul pernyataan serupa dari Menteri Keuangan AS, Scott Bessent.
Penguatan yen tidak hanya dirasakan di pasar valuta asing, tetapi juga memengaruhi pasar saham Tokyo. Indeks Nikkei 225 mengalami koreksi sebesar 1,74 persen, turun 1.121,51 poin ke level 63.240,51, sementara indeks Topix melemah 2,17 persen. Penurunan ini dipengaruhi kekhawatiran investor akan dampak penguatan yen terhadap laba perusahaan ekspor serta aksi ambil untung pada saham teknologi berkapitalisasi besar setelah lonjakan sebelumnya hampir 2.500 poin.
Ekonom dan analis pasar menyatakan bahwa intervensi bersama memiliki efek lebih kuat dan berpotensi bertahan lebih lama dibandingkan intervensi unilateral. Namun, pengaruhnya tetap bersifat jangka pendek jika tidak diikuti oleh perubahan kebijakan moneter, seperti kenaikan suku bunga agresif oleh Bank of Japan (BOJ).
Presiden AS Donald Trump juga memberikan sinyal dukungan dengan menyebut bantuan tersebut sebagai bentuk solidaritas antarnegara sahabat untuk menjaga stabilitas ekonomi global. Sementara itu, laporan menyebutkan bahwa intervensi melibatkan pembelian yen oleh Departemen Keuangan AS melalui Federal Reserve Bank of New York dengan bantuan bank-bank besar, sebagai langkah pertama AS dalam mendukung yen sejak 2011.
Situasi ini menunjukkan koordinasi erat antara Jepang dan AS dalam menjaga stabilitas pasar keuangan global, terutama menghadapi tantangan kebijakan fiskal dan moneter di tengah kondisi ekonomi yang bergejolak. Pasar saat ini terus memantau kemungkinan intervensi lanjutan serta kebijakan Bank of Japan yang dapat mempengaruhi nilai tukar yen dan dinamika pasar saham di masa depan.















Tinggalkan Balasan