Media Kampung – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan awal pekan ini seiring sikap hawkish Federal Reserve (The Fed) yang menaikkan suku bunga acuan. Pada perdagangan Senin, rupiah dibuka melemah di sekitar Rp17.790 per dolar AS dan hingga pukul 09.11 WIB tercatat berada pada level Rp17.780, turun 0,12 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS (US Treasury) menjadi faktor utama yang menekan rupiah. Hal ini dipicu oleh prospek kenaikan suku bunga The Fed yang berupaya menekan inflasi yang masih dianggap terlalu tinggi. Sikap ketat ini mendapat dukungan luas dari anggota Federal Open Market Committee (FOMC), yang mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut dalam beberapa bulan ke depan.
Pengamat pasar uang, Lukman Leong, menyatakan bahwa kondisi ini memberikan tekanan pada Bank Indonesia (BI) menjelang Rapat Dewan Gubernur BI yang dijadwalkan pada Rabu pekan ini. Rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif dengan rentang antara Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS.
Sebelumnya, pada Jumat (18/9/2026), rupiah sempat menguat ke posisi Rp17.731 per dolar AS. Penguatan ini didorong oleh turunnya harga minyak mentah dunia dan pelemahan indeks dolar AS serta imbal hasil obligasi AS. Penurunan harga minyak disebabkan oleh meredanya kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari Arab Saudi yang mulai memulihkan pasokan minyaknya. Kondisi ini menjadi katalis positif bagi rupiah dan juga diikuti oleh penguatan mayoritas mata uang Asia, termasuk ringgit Malaysia dan yuan China.
Sementara itu, dolar AS menghentikan reli penguatan selama enam sesi berturut-turut pada perdagangan Kamis lalu setelah The Fed menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi. Pasar kini mengalihkan perhatian pada kebijakan bank sentral lain seperti Bank of England dan Bank of Japan. Indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama ditutup di level 100,248.
Di pasar Asia, mayoritas mata uang menguat terhadap dolar AS pada perdagangan terakhir pekan lalu. Ringgit Malaysia menjadi yang paling kuat naik 0,49 persen, diikuti dolar Taiwan dan yuan China yang juga menguat. Rupiah turut menguat tipis 0,06 persen ke posisi Rp17.725 per dolar AS. Penguatan mata uang Asia didukung oleh kinerja ekspor China yang solid serta sinyal dukungan dari bank sentral China melalui penetapan kurs referensi harian yuan yang terus menguat menjelang pertemuan puncak antara Presiden AS dan Presiden China akhir September ini.
Pergerakan rupiah dan dolar Amerika Serikat dalam beberapa hari mendatang diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh dinamika kebijakan moneter The Fed dan kondisi pasar energi global. BI dan pelaku pasar terus memantau perkembangan ini menjelang keputusan suku bunga BI pekan ini.














Tinggalkan Balasan