Media Kampung, Utsunomiya – LRT Haga-Utsunomiya di Prefektur Tochigi, Jepang, menerapkan skema pembiayaan unik yang memisahkan pembangunan infrastruktur dan operasional, sehingga mampu menawarkan tarif lebih murah dibandingkan bus konvensional. Skema ini melibatkan peran aktif pemerintah daerah dalam pembangunan dan kepemilikan armada, sementara operasional dijalankan oleh sektor swasta.
Proyek LRT ini menelan biaya sebesar 68,4 miliar yen (sekitar Rp 7,6 triliun), di mana setengahnya berasal dari subsidi pemerintah pusat, dan sisanya ditanggung bersama oleh Kota Utsunomiya dan Haga. Kota Utsunomiya membiayai bagian mereka melalui obligasi daerah yang dicicil selama 20 tahun, dengan beban cicilan tahunan hanya sekitar 0,6 persen dari anggaran kota.
Skema Pembiayaan dan Operasional yang Efisien
Model “Publicly Built, Privately Operated Vertical Separation” memungkinkan pemerintah daerah fokus pada pembangunan rel, depo, dan fasilitas, termasuk pemeliharaan, sementara operator swasta Utsunomiya Light Rail Co., Ltd. menyewa armada dan mengelola layanan harian dengan biaya yang lebih ringan. Hal ini membuat operasional LRT lebih stabil dan efisien.
Tarif Kompetitif dan Sistem Pembayaran Modern
Tarif LRT ditetapkan berdasarkan jarak dan tetap lebih murah dibandingkan bus untuk rute yang sama, yakni 400 yen (sekitar Rp 40 ribu) dari stasiun timur hingga kawasan industri Haga-Takanezawa, sementara tarif bus mencapai 900 hingga 1.000 yen. Pembayaran menggunakan kartu “totrax” yang terintegrasi dengan kartu Suica, memungkinkan kemudahan transaksi cashless dan memberikan manfaat tambahan bagi lansia seperti poin dan tarif maksimum harian yang terjangkau.
Konsep Tata Kota Network-type Compact City
LRT ini menjadi bagian dari strategi tata kota Network-type Compact City (NCC), yang mengatasi tantangan penyusutan dan penuaan penduduk serta ketergantungan pada mobil pribadi. Dengan menghubungkan pusat kota dan pinggiran melalui jaringan transportasi publik berjenjang, LRT berperan sebagai sumbu utama arah timur-barat, dilengkapi oleh kereta JR, bus, dan moda lain, menciptakan sistem transportasi yang mudah diakses.
Desain Ramah Pengguna dan Energi Terbarukan
Rangkaian trem sepanjang sekitar 30 meter dengan tiga gerbong dirancang untuk aksesibilitas penuh tanpa perbedaan ketinggian antara peron dan lantai trem. Selain itu, LRT ini menggunakan 100 persen listrik dari sumber energi terbarukan, termasuk fasilitas pengolahan sampah “Clean Park Mobara” dan panel surya di atap rumah warga, menjadikannya transportasi yang ramah lingkungan.
Rencana Perluasan dan Proyeksi Penumpang
Rute LRT yang saat ini sepanjang 14,6 kilometer direncanakan diperpanjang 5 kilometer hingga mencapai sekitar 20 kilometer pada 2036. Perluasan ini diarahkan untuk melayani kawasan barat kota dan pelajar SMA, dengan proyeksi penumpang harian mencapai 31 ribu orang. Bersamaan dengan itu, penataan ulang kota akan dilakukan agar pusat kota lebih ramah pejalan kaki dan mudah diakses melalui transportasi publik.
Dengan inovasi pembiayaan dan operasional yang efisien, tarif terjangkau, serta integrasi energi terbarukan dan teknologi pembayaran modern, LRT Haga-Utsunomiya menjadi contoh pengembangan transportasi publik berkelanjutan yang dapat dijadikan model bagi kota-kota lain menghadapi tantangan demografis dan lingkungan.














Tinggalkan Balasan