Media Kampung – Rupiah berpotensi menguat ke kisaran Rp 17.000 per dolar AS setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur mendadak pada Selasa (9/6). Langkah ini langsung mendorong penguatan rupiah dari level Rp 18.100-Rp 18.200 menjadi sekitar Rp 18.000 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg.
Head of Investment Portfolio Strategy Bank Sinarmas, Ismail Muharam, menilai penguatan rupiah lebih lanjut sangat mungkin terjadi. Faktor musiman yang sebelumnya menekan rupiah, seperti portfolio outflow terkait MSCI, repatriasi dividen, dan musim haji, sudah berlalu. Namun, sentimen utama yang akan menentukan arah rupiah ke depan adalah perkembangan konflik di Timur Tengah.
Menurut Ismail, apabila perang di Timur Tengah mereda dan jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali normal, harga minyak dapat turun ke kisaran USD 70-80 per barel. Hal ini akan membantu menstabilkan nilai tukar rupiah. Sebaliknya, jika konflik berlanjut, harga minyak tetap tinggi dan berpotensi menekan fiskal Indonesia. Ia mencontohkan neraca perdagangan April yang hampir habis sebagai dampak dari ketegangan di Timur Tengah.
Ismail menambahkan bahwa langkah BI menaikkan suku bunga telah memberikan dampak positif, terlihat dari penguatan rupiah dan meredanya arus keluar modal asing. Harapannya, kapasitas dan technical outflow asing terus berkurang sehingga rupiah dapat bergerak ke kisaran Rp 17.000 per dolar AS.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan