Media Kampung – Nilai tukar rupiah menguat signifikan pada penutupan perdagangan akhir pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,71 persen atau 128 poin menjadi Rp17.860 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi di tengah tekanan yang dialami dolar AS. Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa dolar tertekan setelah pernyataan Presiden Trump yang membatalkan serangan ke Iran, hanya sehari setelah mengancam akan melancarkan serangan besar.
Trump bahkan mengklaim kesepakatan damai dengan Iran mencapai kemajuan dan Selat Hormuz akan dibuka kembali untuk pelayaran. Namun klaim tersebut dibantah Teheran yang menyatakan belum membuat keputusan akhir, dan Iran masih menutup Selat Hormuz untuk lalu lintas pelayaran.
Di sisi lain, data inflasi AS yang meningkat memperkuat kekhawatiran pasar terhadap kebijakan suku bunga the Fed. Data harga produsen bulan Mei naik lebih tinggi dari perkiraan, dengan Indeks Harga Produsen tercatat naik 1,1 persen secara bulanan dan 6,5 persen secara tahunan, didorong oleh kenaikan biaya energi.
Pelaku pasar memperkirakan sekitar 60 persen kemungkinan kenaikan suku bunga the Fed pada Desember 2026, menurut Ibrahim.
Sementara itu, dari dalam negeri, pasar mencermati laporan Bank Dunia yang merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bank Dunia merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 5 persen, dari sebelumnya 4,7 persen.
Revisi tersebut ditopang oleh kinerja perekonomian triwulan I 2026 yang cukup kuat, terutama konsumsi rumah tangga yang didorong momen Ramadan, Idulfitri, pembayaran THR, dan akselerasi program MBG. Sepanjang tahun 2026, konsumsi swasta diprakirakan tumbuh di kisaran 5 persen, didukung stimulus fiskal pemerintah, sementara konsumsi rumah tangga diproyeksikan tumbuh tinggi 8,7 persen.
Meski proyeksi dinaikkan, Bank Dunia memberikan catatan terkait ketergantungan pemerintah terhadap konsumsi. Jika diandalkan sebagai penyangga pertumbuhan dalam jangka pendek, hal itu berisiko pada ruang fiskal yang terbatas. Bank Dunia mencontohkan beban subsidi yang makin besar akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, serta guncangan di pasar keuangan dan pasar modal karena pengumuman MSCI yang akan menguji ketahanan ekonomi domestik.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan