Media Kampung – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara melakukan serangan militer secara bergantian, yang menyebabkan negosiasi damai yang sempat direncanakan kembali tertunda.

Serangan dimulai pada 28 Juli 2026 ketika Iran menyerang pangkalan militer AS di Yordania. Respons cepat diberikan oleh Presiden AS Donald Trump yang memerintahkan Komando Tengah AS (CENTCOM) melancarkan serangan balasan pada 29 Juli malam ke berbagai target militer Iran. CENTCOM menyatakan serangan ini bertujuan mengurangi ancaman yang ditimbulkan oleh Iran dan milisi proksi terhadap pasukan AS dan negara-negara tetangga di Teluk.

Baca juga:

Sebelumnya, kedua negara sebenarnya telah sepakat untuk menghentikan serangan pada pekan sebelumnya, dengan AS memulai gencatan pada 24 Juli diikuti Iran pada 26 Juli. Kesepakatan ini membawa harapan akan kelanjutan negosiasi damai yang sempat tertunda sejak Juli 2026 akibat bentrokan yang terjadi sejak 11 Juli. Namun, eskalasi terbaru ini menghambat proses diplomasi tersebut.

Konflik yang awalnya terbatas kini meluas ke negara-negara lain di kawasan Timur Tengah. AS dan Arab Saudi menyerang milisi yang diduga sekutu Iran di Irak, sementara sebuah kapal tanker minyak AS di Pelabuhan Damietta, Mesir, mengalami serangan drone yang menyebabkan kerusakan. Meski demikian, pelaku serangan drone ini belum diketahui.

Baca juga:

Iran sendiri menunjukkan sikap percaya diri dan belum bersedia melakukan negosiasi langsung dengan AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa saat ini belum terjadi gencatan senjata resmi dan Iran tidak terburu-buru untuk melakukan pembicaraan damai. Fokus utama Iran adalah mendapatkan pengakuan atas kendali mereka terhadap Selat Hormuz, jalur strategis pengiriman minyak dan gas global, yang telah mereka kontrol secara efektif setelah serangan AS dan Israel pada Februari 2026.

Pengamat menilai bahwa tantangan terbesar dalam melanjutkan proses perdamaian adalah krisis kepercayaan Iran terhadap AS. Setelah berkali-kali mengalami pengkhianatan dalam negosiasi sebelumnya, Iran membutuhkan itikad baik berupa konsesi nyata, seperti pencairan aset atau pelonggaran sanksi agar mau kembali ke meja perundingan.

Baca juga:

Di sisi lain, Presiden Trump menegaskan akan memberikan respons keras terhadap setiap serangan terhadap pasukan AS dan menolak klaim bahwa Iran pernah memohon untuk tidak dibalas serang. Trump memilih jalur diplomasi karena keterbatasan persediaan amunisi dan anggaran AS, serta tekanan dari mediator perdamaian seperti Qatar dan Pakistan yang berupaya mencegah eskalasi lebih lanjut dan mendorong kedua pihak kembali ke meja perundingan.

Ketegangan yang kembali memuncak ini menunjukkan betapa kompleks dan rapuhnya situasi konflik AS-Iran yang telah memasuki bulan keenam. Dengan meluasnya pertempuran ke negara-negara tetangga dan ketidakpastian antara perang dan damai, penyelesaian akhir tampak masih jauh dan membutuhkan upaya diplomasi yang lebih serius serta itikad baik dari kedua belah pihak.