Media Kampung – Republik Islam Iran mengambil langkah dramatis dengan menutup wilayah udaranya, seiring dengan mobilisasi pesawat pengebom B-2 Spirit oleh Amerika Serikat. Tindakan ini merupakan reaksi langsung terhadap meningkatnya ketegangan yang mengarah pada kemungkinan pecahnya perang di kawasan tersebut.

Mobilisasi pesawat pengebom siluman B-2 oleh AS terjadi bersamaan dengan pengumuman dari Korp Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang menyatakan kesiapan tinggi seluruh pasukannya. Penutupan wilayah udara ini mencakup area barat Iran dan akan berlaku hingga 25 Mei 2026, sebagaimana diungkapkan oleh Otoritas Penerbangan Sipil Iran dalam Pemberitahuan Darurat kepada Penerbang.

Situasi ini semakin memanas karena negosiasi antara AS dan Iran terjebak dalam kebuntuan. Laporan media mengindikasikan bahwa IRGC telah menyusun rencana operasional strategis baru untuk menanggapi potensi serangan dari AS dan sekutu-sekutu regionalnya. Rencana tersebut muncul setelah Presiden AS, Donald Trump, mempertimbangkan kampanye udara multi-fase yang dikenal dengan nama sandi “Operasi Sledgehammer”.

Trump dilaporkan membatalkan rencana perjalanan akhir pekannya untuk tetap berada di Gedung Putih, dengan alasan situasi di Iran dan “urusan kenegaraan”. Mobilisasi pesawat B-2 ini, yang dipublikasikan oleh Wakil Kepala Staf Gedung Putih, Dan Scavino, menambah kekhawatiran di kalangan negara-negara lain, mengingat sejarah yang menyertainya.

Pesawat pengebom B-2 yang dikerahkan memiliki kemampuan untuk menembus wilayah udara yang dijaga ketat, yang bertepatan dengan larangan penerbangan yang diberlakukan di atas sektor informasi penerbangan barat Iran. Hanya delapan bandara domestik yang tetap beroperasi di bawah pembatasan ketat selama siang hari.

Krisis ini muncul setelah Trump menyatakan bahwa perintah untuk melanjutkan serangan udara hanya ditunda atas permintaan sekutu-sekutu Teluk yang berharap ada kesepakatan mengenai pengayaan uranium dan hak transit maritim. Namun, pembicaraan tersebut kini berada di ambang kegagalan, memaksa pemerintah untuk menetapkan tenggat waktu 24 jam sebelum meluncurkan rencana ofensif yang telah disetujui oleh Pentagon.

Di sisi lain, IRGC telah memperingatkan bahwa mereka siap untuk melaksanakan rencana serangan balasan terhadap instalasi militer AS dan negara-negara mitra regional yang terlibat dalam operasi tersebut. Meningkatnya ketegangan ini menjadi sinyal bahwa situasi di Timur Tengah mungkin akan semakin memburuk dalam waktu dekat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.