Media Kampung, Teheran — Kementerian Kesehatan Iran mengonfirmasi 14 orang tewas dan 78 lainnya terluka dalam serangan udara Amerika Serikat yang menghantam lima provinsi sejak Rabu (8/7/2026). Serangan ini merupakan gelombang kedua setelah sebelumnya AS menargetkan kota-kota di pesisir selatan Iran.

Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan drone terhadap instalasi militer AS di Kuwait, Qatar, dan Bahrain. Sasaran termasuk sistem rudal Patriot di Kuwait, stasiun antena satelit peringatan dini di Qatar, serta tangki bahan bakar militer AS di Bahrain.

Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghantam Iran 20 kali lebih keras untuk setiap serangan balasan. Namun, saat ditanya kemungkinan perang skala penuh, Trump menyatakan, “Kami memiliki banyak cara untuk menang, dan kami sudah menang secara militer.”

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi serangan kedua bertujuan untuk semakin menurunkan kemampuan navigasi Iran di Selat Hormuz yang strategis. Langkah ini menandai berakhirnya gencatan senjata yang disepakati melalui Nota Kesepahaman Islamabad. AS juga mencabut sementara sanksi terhadap minyak mentah Iran.

Serangan terjadi di tengah proses pemakaman mantan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas bersama beberapa anggota keluarganya. Jenazahnya telah dibawa dari Najaf, Irak, menuju Mashhad, Iran, untuk dimakamkan Kamis (9/7/2026) dekat makam Imam Reza.

Akibat serangan, jalur kereta api Teheran-Mashhad terputus di satu titik. Iran Railways mengerahkan tim teknis untuk perbaikan dan menyediakan transportasi darat bagi penumpang yang terjebak.

Otoritas Pelabuhan Chabahar mulai memindahkan mobil impor dari gudang karena serangan AS mendekati kawasan tersebut. Sekitar 300 kendaraan telah dievakuasi, dan 100 lainnya ditargetkan selesai sebelum pagi.