Media Kampung, Eropa BaratGelombang panas ekstrem yang melanda Eropa barat pada Juni 2026 mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah. Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa mengonfirmasi bahwa suhu rata-rata di wilayah tersebut mencapai 20,74 derajat Celsius, lebih dari 3 derajat di atas normal periode 1991-2020. Rekor sebelumnya yang ditetapkan pada Juni 2025 pun terpecahkan.

Dampak gelombang panas ini sudah mulai terasa di berbagai sektor. Di Inggris, Waitrose, satu-satunya supermarket yang memiliki dan mengoperasikan pertanian sendiri, memulai panen gandum dan lobak minyak paling awal dalam sejarah di lahan pertanian Leckford Estate, Hampshire. Manajer pertanian Dave Miles menyebut suhu yang memecahkan rekor sebagai panggilan nyata terhadap perubahan iklim. Secara tradisional, musim panen di Inggris berlangsung dari akhir Juli hingga Oktober.

Pemerintah daerah di Inggris juga mulai memberlakukan larangan penggunaan selang air (hosepipe ban) menyusutkan pasokan air bersih. Otoritas setempat berupaya mengelola konservasi air di tengah peningkatan konsumsi saat cuaca panas.

Sementara itu, di sektor energi, kekhawatiran muncul akan potensi kekurangan pasokan gas pada musim dingin mendatang. Chief Executive Adura, Neil McCulloch, yang mengelola ladang gas Jackdaw di Laut Utara, mengatakan bahwa proyek tersebut sangat penting untuk memenuhi 6% kebutuhan gas Inggris mulai 1 Oktober. Namun, izin produksi masih tertahan karena gugatan hukum dari kelompok lingkungan yang menolak proyek bahan bakar fosil. McCulloch memperingatkan bahwa Inggris hanya memiliki kapasitas penyimpanan gas sekitar delapan hari, sehingga rentan terhadap keadaan darurat pasokan, termasuk cuaca berawan panjang yang menghambat energi surya dan angin.

Di sisi lain, inisiatif pembiayaan iklim mulai bermunculan. Singapura melalui inisiatif FAST-P berhasil mengumpulkan US$1,14 miliar untuk mendanai proyek energi hijau di Asia, seperti pembangkit listrik tenaga surya di Filipina dan proyek bioenergi dari sekam padi. Skema keuangan campuran (blended finance) ini menggabungkan dana publik, swasta, dan filantropi untuk mengurangi risiko investasi pada energi bersih.

Para ilmuwan menegaskan bahwa gelombang panas yang lebih sering dan lebih intens ini adalah akibat langsung dari perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil. Samantha Burgess dari Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (ECMWF) menyatakan bahwa dunia akan melihat lebih banyak gelombang panas di masa depan, dengan durasi lebih panjang dan wilayah terdampak yang lebih luas. Suhu global pada Juni 2026 tercatat 1,39 derajat Celsius di atas rata-rata pra-industri, sementara suhu laut juga mencapai rekor tertinggi.