Media Kampung – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kembali mengklaim telah menghancurkan tiga pesawat tempur F-35 milik Amerika Serikat di pangkalan udara Al-Azraq, Yordania. Serangan yang dilakukan pada pagi hari 1 Agustus menggunakan beberapa rudal balistik ini juga merusak tiga pesawat F-35 lainnya.

Menurut laporan, IRGC menargetkan hanggar perbaikan dan area parkir pesawat F-35, menghancurkan total tiga jet tempur serta merusak tiga lainnya. Ini merupakan kelanjutan dari insiden serupa yang dilaporkan pada 30 Juli, saat tiga pesawat F-35 juga diklaim hancur di pangkalan AS di Yordania.

Baca juga:

Kejadian ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada 8 Juli bahwa gencatan senjata yang dicapai pada 18 Juni tidak lagi berlaku. Sejak pengumuman tersebut, militer AS melakukan beberapa serangan terhadap target di Iran, yang kemudian dibalas oleh pasukan Iran dengan serangan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Komando Pusat AS menyatakan bahwa serangan mereka merupakan balasan atas tindakan Iran yang dianggap mengancam kapal-kapal dagang di Selat Hormuz. Sementara itu, Iran menuduh AS melanggar perjanjian gencatan senjata. Dalam situasi yang semakin memanas ini, pergerakan militer AS termasuk pengerahan pesawat tempur canggih seperti F-22 dan kapal induk menunjukkan kesiapan menghadapi kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.

Baca juga:

Selain itu, penempatan dan pergeseran pasukan serta sistem pertahanan rudal Aegis oleh AS menandakan kesiapan menghadapi kemungkinan serangan balasan. Di sisi lain, Iran juga melakukan penyesuaian strategis dengan menyebarkan ulang pasukan Garda Revolusi dan memindahkan sistem rudal ke wilayah timur untuk memanfaatkan kondisi geografis dalam menghadapi potensi operasi udara AS.

Ketegangan ini menjadi perhatian internasional mengingat dampaknya terhadap stabilitas kawasan dan keamanan global. Serangan-serangan yang mengarah pada kerusakan pesawat tempur canggih seperti F-35 menandai eskalasi signifikan dalam konflik antara kedua negara dan menimbulkan kekhawatiran akan konflik yang lebih luas.

Baca juga: