Media Kampung – Harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia terus mengalami kenaikan, sementara di Arab Saudi, negara penghasil minyak lainnya, harga BBM justru jauh lebih murah. Perbedaan ini menarik perhatian karena kedua negara sama-sama memiliki kekayaan minyak bumi. Kenaikan harga BBM di Indonesia dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global, terutama perang di Timur Tengah yang berdampak pada harga minyak dunia.

Di Indonesia, PT Pertamina Patra Niaga menyatakan potensi kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax dapat mencapai Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter. Hal ini dikarenakan harga minyak mentah acuan Brent masih berada di atas US$100 per barel akibat ketegangan geopolitik, termasuk perang di Timur Tengah dan ketegangan di Selat Hormuz yang lebih parah daripada konflik Ukraina-Rusia. Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, menegaskan bahwa belum ada indikasi penurunan harga minyak dunia dalam waktu dekat.

Baca juga:

Sementara itu, di Arab Saudi, harga BBM tetap sangat murah meskipun negara tersebut juga merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia. Di sana, kendaraan umumnya adalah mobil mewah, dan hampir tidak ada sepeda motor di jalan. Pelayanan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dilakukan oleh pekerja asing, bukan warga Arab Saudi, karena warga lokal lebih memilih tidak bekerja di sektor ini. Hal ini menunjukkan perbedaan struktur sosial dan ekonomi antara kedua negara penghasil minyak tersebut.

Selain itu, dalam konteks geopolitik global, Amerika Serikat menyebut Venezuela sebagai calon pengganti Timur Tengah sebagai pusat produksi minyak dunia. AS berupaya meningkatkan produksi minyak Venezuela hingga 1,5 juta barel per hari dengan dukungan perusahaan AS, setelah adanya kesepakatan yang memungkinkan AS memiliki saham di kilang dan pengeboran minyak Venezuela. Hal ini menjadi bagian dari upaya diversifikasi pasokan minyak dan mengurangi ketergantungan pada wilayah Timur Tengah yang rawan konflik.

Baca juga:

Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah, termasuk perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran serta pertempuran di Yaman, telah mendorong kenaikan harga minyak global dan memicu gelombang protes di berbagai negara. Negara-negara dengan ekonomi lebih lemah merasakan dampak yang lebih berat, dengan masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat kenaikan biaya bahan bakar. Protes terjadi di Suriah, Guatemala, dan Portugal sebagai reaksi terhadap kenaikan harga BBM yang signifikan.

Di tengah situasi ini, Rusia juga menyatakan dukungan terhadap gagasan gencatan serangan di sektor energi antara Rusia dan Ukraina yang diusulkan Amerika Serikat. Rusia menegaskan bahwa kendala utama di pasar minyak global adalah terbatasnya akses ekspor minyak Rusia akibat sanksi, bukan produksi. Rusia menyerukan pencabutan sanksi untuk meningkatkan ketersediaan produk minyak bumi di pasar internasional dan menurunkan harga global.

Baca juga:

Selain dinamika geopolitik, industri minyak dan gas di Indonesia juga terus berupaya mengembangkan sumber daya manusia. Sebanyak 24 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi mendapatkan pengalaman langsung di rig pengeboran melalui program pelatihan di Indonesia Drilling Training Center (IDTC), Indramayu. Program ini bertujuan memperkenalkan secara praktis proses eksplorasi dan pengeboran minyak bumi kepada generasi muda yang akan menjadi tenaga profesional di sektor migas.

Perbedaan harga BBM antara Indonesia dan Arab Saudi yang sama-sama penghasil minyak menimbulkan banyak pertanyaan terkait kebijakan energi dan distribusi sumber daya di masing-masing negara. Sementara Arab Saudi mampu menjaga harga BBM tetap rendah, Indonesia menghadapi tantangan kenaikan harga akibat faktor global dan kebijakan dalam negeri. Kondisi ini menuntut perhatian serius untuk memastikan ketersediaan energi yang terjangkau dan stabil bagi masyarakat Indonesia.