Media Kampung, Pekanbaru – Kualitas udara di Pekanbaru dan wilayah Riau secara umum masih dalam kondisi yang kurang sehat akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kabut asap menyelimuti kota dan wilayah sekitarnya, dengan konsentrasi partikel berbahaya seperti PM2.5 dan PM10 yang tinggi, memengaruhi kesehatan masyarakat dan aktivitas sehari-hari.
Data pemantauan menunjukkan bahwa konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru pada Selasa (15/9/2026) pagi mencapai 143,4 mikrogram per meter kubik, sementara pada malam sebelumnya sempat menembus angka 253,4 μg/m³. Konsentrasi PM10 juga tercatat tinggi di angka 248,6 μg/m³, jauh di atas ambang batas aman. Kondisi ini menyebabkan kualitas udara masuk kategori sangat tidak sehat dan berpotensi memicu gangguan pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Pemerintah dan sejumlah organisasi merespons situasi ini dengan berbagai langkah perlindungan. Di Sumatera Selatan, Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Komda Sumatera Selatan bersama Pemerintah Provinsi dan mitra APP Group membagikan 8.000 masker kepada warga di Palembang. Kegiatan ‘Peduli Berbagi Masker’ ini melibatkan 80 relawan yang mendistribusikan masker di delapan titik strategis untuk membantu masyarakat mengurangi paparan asap berbahaya.
Sementara itu, Pemerintah Kota Pekanbaru menerapkan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka terbatas untuk melindungi peserta didik dari paparan udara yang sangat tidak sehat. Kegiatan sekolah dibatasi hingga pukul 12.00 WIB dan seluruh aktivitas dilakukan di dalam ruangan dengan kewajiban penggunaan masker.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru melaporkan adanya lonjakan titik panas di Pulau Sumatera, khususnya di Sumatera Selatan dengan 4.169 titik panas terdeteksi, yang menjadi sumber utama asap yang menyebar ke wilayah Riau. BMKG juga memantau jarak pandang di Pekanbaru yang menurun hingga sekitar 3 kilometer akibat kabut asap. Kondisi ini diperkirakan akan berlanjut selama beberapa hari ke depan, disebabkan oleh pergerakan angin yang membawa asap dari wilayah selatan Riau.
Meski kabut asap masih menyelimuti, aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru tetap berjalan normal dengan 57 pergerakan pesawat tercatat hingga malam hari. Pengelola bandara terus memantau kondisi cuaca dan jarak pandang secara berkala demi menjamin keselamatan operasional.
Upaya pengendalian karhutla terus dilakukan oleh pemerintah daerah bersama berbagai pihak untuk mengurangi sumber asap. Dukungan dari berbagai organisasi dan masyarakat sangat penting dalam menghadapi dampak kualitas udara buruk ini. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kesehatan, terutama dengan menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kondisi udara belum membaik.













Tinggalkan Balasan