Media Kampung – Iran dinilai semakin unggul dalam negosiasi internasional, sementara Presiden Donald Trump menempuh langkah baru untuk mengakui Israel di kalangan negara-negara Arab. Taktik ini diungkapkan dalam konteks Kesepakatan Abraham yang berfungsi sebagai alat untuk menarik perhatian dari isu-isu utama terkait perundingan dengan Iran.
Menurut para pejabat AS dan Arab, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun, Trump berusaha menciptakan kesepakatan yang lebih besar untuk mengalihkan fokus dari hasil perundingan yang tidak menguntungkan bagi AS. Aaron David Miller, mantan negosiator Timur Tengah, menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan taktik khas Trump.
Di tengah pembicaraan, terdapat rencana untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Sebagai imbalan atas pencabutan sanksi penjualan minyak, Iran diharapkan membuka kembali Selat Hormuz, tempat yang juga menjadi lokasi penerapan blokade oleh AS terhadap Teheran.
Namun, kesepakatan ini tidak menyentuh isu persenjataan rudal balistik Iran, yang dilaporkan masih berada pada 70 persen dari tingkat sebelum perang. Seorang mantan pejabat senior AS menambahkan bahwa Trump berharap negara-negara Teluk akan memberikan kompensasi untuk mengakhiri konflik di Iran.
Dalam konteks ini, pendekatan Trump terhadap Kesepakatan Abraham mencerminkan kesan yang salah bahwa negara-negara yang terlibat dalam perang berutang budi kepadanya. Keputusan Trump untuk melancarkan serangan terhadap Iran bersama Israel pada bulan Februari juga didasari oleh alasan untuk menghindari pengembangan senjata nuklir oleh Iran.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan