Media KampungIndonesia membuka peluang bagi Rusia untuk terlibat dalam pengembangan proyek perkeretaapian strategis, termasuk jalur Trans-Sumatra dan Trans-Kalimantan. Hal ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) usai bertemu Menteri Transportasi Federasi Rusia Andrey Nikitin di Moskow.

Pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama kedua negara di sektor transportasi dan konektivitas. AHY menekankan bahwa Indonesia masih membutuhkan pengembangan jaringan kereta api yang masif untuk mendukung konektivitas antardaerah dan pemerataan pembangunan.

Oleh karena itu, pemerintah membuka kesempatan bagi perusahaan Rusia untuk berpartisipasi dalam proyek strategis seperti Trans-Sumatera, Trans-Sulawesi, dan Trans-Kalimantan. Kerja sama ini tidak hanya mencakup pembangunan jalur kereta, tetapi juga pengembangan teknologi dan manufaktur sarana-prasarana perkeretaapian.

Selain itu, potensi kerja sama meliputi rekayasa kereta berkecepatan tinggi, angkutan berat (heavy-haul rail), serta peningkatan standar keselamatan dan operasional. AHY menilai pengalaman Rusia di sektor transportasi dapat menjadi nilai tambah bagi Indonesia.

“Termasuk dalam pengembangan sistem transportasi publik perkotaan dan teknologi transportasi rendah karbon,” ujar AHY dalam keterangan resmi, Minggu, 7 Juni 2026. Selain perkeretaapian, kedua negara juga membahas peluang kerja sama di bidang transportasi udara dan maritim.

Indonesia bahkan berkomitmen mempercepat proses ratifikasi perubahan Perjanjian Angkutan Udara Indonesia-Rusia yang telah ditandatangani pada 2023. Berbagai peluang kerja sama ini diarahkan untuk mendukung target pemerintah menurunkan biaya logistik menjadi 12,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2029.

“Tujuan kami sederhana, bagaimana biaya logistik semakin efisien. Lalu konektivitas antardaerah semakin kuat, investasi dan lapangan kerja semakin tumbuh,” ujar AHY.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.