Media Kampung – Ahli memperkirakan sekitar 80.000 bayi di Indonesia lahir dengan penyakit jantung bawaan setiap tahun. Angka ini setara dengan 10 kasus per 1.000 kelahiran hidup berdasarkan prevalensi global. Namun, data prevalensi nasional yang komprehensif masih belum tersedia.

Konsultan Penyakit Jantung Bawaan RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Oktavia Lilyasari, memaparkan data tersebut dalam Global Summit on Pediatric Rare Disease Cardiac Excellence yang digelar RS JIH Yogyakarta di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Selasa (28/6). Seminar internasional ini diikuti sekitar 100 dokter dan bekerja sama dengan SJD Barcelona Children’s Hospital, pusat layanan kardiologi anak di Spanyol yang telah beroperasi lebih dari satu abad.

“Sayangnya, kami masih kekurangan data mengenai prevalensi penyakit jantung bawaan di Indonesia,” kata Oktavia. Kemajuan layanan kesehatan membuat lebih dari 90 persen anak dengan penyakit jantung bawaan kini dapat bertahan hidup hingga usia dewasa. Namun, perkembangan ini memunculkan tantangan baru, termasuk risiko gagal jantung, serangan jantung mendadak, dan aritmia yang meningkat seiring kompleksitas kondisi dan riwayat intervensi sebelumnya.

Selain penyakit jantung bawaan, seminar juga menyoroti gangguan irama jantung yang dapat memicu kematian mendadak tanpa gejala sebelumnya. Georgia Sarquella-Brugada, Kepala Departemen Kardiologi Anak SJD Barcelona Children’s Hospital, menekankan bahwa absennya gejala tidak berarti pasien bebas dari risiko. “Pada sebagian kasus, henti jantung mendadak adalah manifestasi pertama dari penyakit tersebut. Hanya karena pasien tidak pernah menunjukkan gejala sebelumnya, bukan berarti pasien tersebut tidak bisa meninggal mendadak,” ujarnya.

Georgia juga menyoroti sindrom Brugada, kelainan irama jantung yang menjadi salah satu penyebab utama kematian mendadak pada usia muda. Asia Tenggara, termasuk Indonesia, termasuk wilayah dengan jumlah kasus yang relatif tinggi. Di Indonesia, kondisi ini bahkan berkaitan dengan fenomena yang dikenal masyarakat sebagai “ketindihan genderuwo.”

Untuk mendeteksi aritmia secara lebih akurat, Ketua Indonesian Heart Rhythm Society (INAHRS), Erika Maharani, mengingatkan agar tenaga medis tidak berhenti pada hasil EKG istirahat yang tampak normal. “Selalu cobalah untuk mencari aritmia dengan memasang alat monitor. Coba identifikasi apa yang menyebabkan gejala pasien,” katanya.

Direktur Utama RS JIH, Bambang, menyebut seminar ini sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan tenaga medis terhadap perkembangan terbaru penanganan penyakit jantung anak dan penyakit langka. Ia menekankan pada kondisi yang selama ini ditemui di lapangan tetapi belum memiliki panduan protokol yang jelas. “Kesehatan di Indonesia tidak bisa diselesaikan hanya dengan kompetensi atau keilmuan saja, tetapi juga memerlukan koordinasi dan sinergi, tidak hanya antar institusi tetapi juga lintas negara,” ujarnya.

RS JIH saat ini mengoperasikan layanan JIH CardiaCare dengan dukungan 12 dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, serta fasilitas Cath Lab, EKG, Echocardiography, Holter Monitor, dan CT Scan Jantung. Pada 2024, rumah sakit ini juga meresmikan Pediatric Tower yang dilengkapi fasilitas NICU dan PICU guna memperkuat layanan kesehatan anak secara komprehensif.

Chief Strategic Officer PT Unisia Medika Farma-RS JIH, Octdy Hendrawan Wulantara, mengatakan pengembangan layanan tersebut memungkinkan RS JIH menangani berbagai kasus kardiovaskular secara lebih komprehensif, baik pada pasien dewasa maupun anak. “Seperti diketahui, saat ini kami telah memiliki Pediatric Tower dan berbagai layanan sub spesialis, baik untuk jantung maupun kesehatan anak. Kami juga tidak hanya melayani intervensi kardiovaskular, tetapi sudah dapat menangani gangguan irama jantung atau aritmia,” ujar Octdy.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.