Media Kampung – Ketan bubuk, sajian tradisional sederhana yang terbuat dari ketan pulen, kelapa parut, dan bubuk kedelai, tetap bertahan di tengah maraknya makanan modern. Camilan ini tidak hanya memiliki cita rasa gurih dan sedikit manis, tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam bagi masyarakat Jawa.
Menurut sumber dari Media Kampung, kata “ketan” diyakini berasal dari istilah kraketan atau ngraketke yang berarti merekatkan hubungan antarmanusia. Teksturnya yang pulen dan lengket menjadikan ketan sebagai simbol persaudaraan, kebersamaan, dan hubungan yang erat. Selain itu, ketan juga dimaknai sebagai kemutan dalam bahasa Jawa, yang berarti mengingat, mengandung pesan tentang pentingnya refleksi diri dan memperbaiki kesalahan.
Ketan bubuk dibuat dengan mengukus ketan bersama santan hingga menghasilkan tekstur pulen dan aroma harum. Setelah matang, ketan disajikan dengan taburan bubuk kedelai halus dan kelapa parut. Kesederhanaan ini justru menjadi daya tarik tersendiri di tengah tren kuliner kekinian.
Menariknya, ketan bubuk mulai muncul di tempat-tempat yang tidak selalu identik dengan makanan tradisional, salah satunya di Merthani Coffee and Eatery di Jalan Istana Tidar, Jember. Di kafe tersebut, jajanan ini disajikan berdampingan dengan menu kafe modern. Seorang pengunjung bernama Rea mengaku baru pertama kali menemukan ketan bubuk di kafe. Ia merasa senang karena camilan yang mengingatkannya pada jajanan tradisional itu jarang ditemui. Rea berharap menu seperti ini tetap dipertahankan agar makanan tradisional semakin dikenal dan tidak kalah oleh tren kuliner modern.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan