Media Kampung – 21 Maret 2026 | Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat hampir mencapai tujuan operasinya di Iran dan sedang mempertimbangkan pengurangan bertahap aksi militer.

Pernyataan itu dipublikasikan pada akun Truth Social pada Jumat 20 Maret 2026, setelah serangan gabungan AS‑Israel yang dimulai 28 Februari mengganggu pelayaran global.

Trump menjelaskan tujuan kampanye meliputi melemahkan kemampuan rudal Iran, menghancurkan fasilitas industri pertahanan, melumpuhkan angkatan laut dan udara, mencegah pengembangan nuklir, serta melindungi sekutu Amerika.

Dia menegaskan bahwa gencatan senjata tidak dipertimbangkan, sambil menambahkan bahwa dialog dapat dilakukan tetapi “tidak ada gencatan senjata ketika Anda benar-benar menghancurkan lawan”.

Menurut Trump, secara militer Iran telah kehilangan angkatan laut, angkatan udara, radar, dan sistem pertahanan udara, sehingga tidak dapat memproyeksikan kekuatan.

Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menolak klaim tersebut di platform X, menyatakan narasi Gedung Putih tidak mencerminkan realitas di lapangan.

Araghchi menambahkan bahwa infrastruktur pertahanan Iran tetap berfungsi dan pernyataan AS “terputus dari kenyataan”.

Serangan gabungan AS‑Israel pada 28 Februari menargetkan fasilitas penting Iran, menyebabkan lonjakan tajam harga minyak dan menambah tekanan pada ekonomi dunia.

Operasi itu juga memaksa penutupan sementara Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan energi global.

Trump berpendapat keamanan Selat Hormuz seharusnya menjadi tanggung jawab negara‑negara yang bergantung padanya, dengan Amerika Serikat hanya akan campur tangan bila diminta.

Ia menegaskan kesiapan pasukan AS untuk membantu, namun menekankan peran utama harus dipegang negara‑regional setelah ancaman Iran teratasi.

Trump sebelumnya mengkritik sekutu NATO sebagai “pengecut” karena enggan mengawal jalur tersebut, menyebut aliansi itu “harimau kertas” tanpa dukungan AS.

Presiden Komisi Eropa, Kaja Kallas, menyatakan Uni Eropa tidak ingin terjebak dalam konflik berkepanjangan, meski kepentingan Eropa di Timur Tengah terancam.

Pihak AS belum menutup kemungkinan pencabutan sanksi atas minyak Iran yang dikirim lewat laut, langkah yang berpotensi mengubah dinamika pasar global.

Inggris telah mengizinkan penggunaan pangkalan militernya untuk operasi melawan Iran dan menempatkan aset udara guna melindungi jalur pelayaran.

Korps Marinir AS, dengan kekuatan antara 2.200 hingga 2.500 personel, dikerahkan dari California ke kawasan Timur Tengah sebagai bagian dari eskalasi.

Pengamat mencatat bahwa meski AS mengklaim hampir selesai, laporan dari Tehran menunjukkan penilaian kerusakan dan perpindahan penduduk masih berlangsung.

Situasi tetap dinamis; Amerika Serikat memberi sinyal kemungkinan penurunan operasi sementara Iran terus menolak kekalahan, menambah ketidakpastian stabilitas regional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.