Media Kampung – 15 April 2026 | International Monetary Fund (IMF) mengeluarkan peringatan bahwa ekonomi dunia kini berada di antara skenario sedang dan skenario buruk akibat konflik yang berkelanjutan di Timur Tengah, sementara Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan komitmen fiskal negara untuk menahan goncangan global, dan mantan Presiden SBY mengingatkan risiko terulangnya krisis 2008.

IMF memaparkan tiga skenario pertumbuhan tahun 2026: skenario terbaik dengan harga minyak rata‑rata US$ 82 per barel, pertumbuhan global 3,4 %; skenario sedang dengan harga minyak US$ 100 per barel dan pertumbuhan 2,5 %; serta skenario terburuk dengan harga minyak US$ 110‑125 per barel dan risiko resesi.

Pierre‑Olivier Gourinchas, kepala ekonomi IMF, menyatakan bahwa ‘kita berada di antara skenario sedang dan skenario buruk, dan setiap hari gangguan energi menambah probabilitas skenario terburuk.’

Gangguan pasokan energi yang dipicu oleh ketegangan di Selat Hormuz terus menekan pasar, memperburuk ekspektasi inflasi dan menurunkan kepercayaan investor internasional.

Dalam skenario terbaik, IMF mengasumsikan konflik berakhir pada paruh kedua 2026 sehingga harga minyak kembali stabil di US$ 82, memungkinkan pertumbuhan global kembali ke 3,4 % setelah penurunan tahun sebelumnya.

Skenario sedang memperkirakan harga minyak tetap di sekitar US$ 100 pada 2026 dan turun menjadi US$ 75 pada 2027, dengan pertumbuhan global melambat menjadi 2,5 % tahun ini.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menggelar pertemuan strategis di Washington D.C. pada 15 April 2026, bertemu langsung dengan Managing Director IMF Kristalina Georgieva, perwakilan Bank Dunia, serta eksekutif S&P Global Ratings.

Dalam dialog tersebut, Purbaya menyampaikan bahwa Indonesia telah mengamankan dukungan dari 18 investor institusional besar, termasuk Goldman Sachs dan Fidelity, yang menilai kebijakan fiskal negara kredibel dan berkelanjutan.

‘Kami berkomitmen menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan anggaran negara di tengah ketidakpastian global,’ ujar Purbaya dalam pernyataan tertulis.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 diproyeksikan mencatat defisit terkelola di bawah 3 % PDB, sementara Bank Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi domestik sebesar 5,2 % untuk tahun berjalan.

Presiden ke‑6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan peringatan pada 14 April 2026 di The St. Regis Jakarta bahwa konflik Timur Tengah dapat memicu krisis ekonomi serupa 2008 jika tidak segera diatasi.

‘Jika perang tidak berakhir, dunia dapat mengalami keruntuhan ekonomi yang parah; stabilitas hanya dapat tercapai setelah penyelesaian damai dan masa transisi yang cukup panjang,’ kata SBY dalam pidatonya.

Pasar keuangan global kini mencermati pergerakan harga minyak, yang pada 15 April 2026 berada di kisaran US$ 95 per barel, sementara indeks saham utama menunjukkan volatilitas moderat, menandakan bahwa kebijakan fiskal Indonesia dan peringatan IMF menjadi faktor kunci dalam menilai risiko ekonomi tahun depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.