Goldman Sachs Soroti Risiko Dua Arah terhadap Harga Minyak Imbas Perang di Iran

Media Kampung – Goldman Sachs baru-baru ini mengeluarkan peringatan penting mengenai ketidakpastian harga minyak dunia akibat konflik yang berkepanjangan di Iran. Dalam catatan riset mereka, yang dipimpin oleh analis Daan Struyven, Goldman Sachs soroti risiko dua arah terhadap harga minyak imbas perang di Iran yang dapat mempengaruhi pasar global secara signifikan. Risiko tersebut berasal dari dua faktor utama, yakni potensi gangguan pasokan minyak dan pelemahan permintaan yang tajam.

Risiko Gangguan Pasokan Akibat Perang di Iran

Perang yang berkecamuk di Iran telah memberikan tekanan besar terhadap pasokan minyak global. Negara-negara produsen di kawasan Teluk Persia kini menghadapi kesulitan besar dalam menyalurkan minyak melalui jalur strategis Selat Hormuz. Penurunan pengiriman minyak melalui jalur ini menyebabkan jutaan barel minyak produksi terhenti, sehingga memicu lonjakan harga minyak dunia.

Sejak konflik pecah pada akhir Februari, harga minyak mentah Brent sebagai patokan dunia telah melonjak lebih dari 25 persen. Kenaikan tersebut menunjukan betapa sensitifnya pasar terhadap gangguan pasokan dari kawasan yang sangat vital bagi suplai minyak dunia.

Penurunan Permintaan yang Signifikan

Namun, Goldman Sachs juga mencatat adanya risiko besar di sisi permintaan. Data terbaru dari China dan Eropa Barat menunjukkan penurunan permintaan minyak sekitar 2 juta barel per hari pada bulan April, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yang sudah konservatif. Penurunan permintaan ini terutama disebabkan oleh harga minyak yang tinggi, yang mempengaruhi konsumsi bahan bakar pesawat serta bahan baku petrokimia.

China, sebagai negara importir minyak terbesar dunia, diperkirakan akan mengalami penurunan impor minyak ke level terendah sejak pandemi. Perusahaan konsultan Energy Aspects Ltd memperkirakan China hanya akan menerima sekitar 10,9 juta barel per hari sepanjang tahun ini, menandakan lemahnya permintaan yang berpotensi berlanjut dalam jangka waktu dekat.

Pergerakan Harga Minyak dan Prospek Pasar

Harga minyak Brent saat ini diperdagangkan di kisaran USD 93 per barel, setelah sempat mencapai level terendah dalam enam minggu pada pekan lalu. Optimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran turut menjadi faktor yang menekan harga minyak.

Meski demikian, Goldman Sachs soroti risiko dua arah terhadap harga minyak imbas perang di Iran, yang berarti harga minyak bisa mengalami kenaikan signifikan jika gangguan pasokan berlanjut lebih lama. Sebaliknya, harga juga bisa turun hingga sekitar USD 10 per barel dari proyeksi USD 90 per barel pada kuartal IV tahun ini jika permintaan global terus melemah.

Implikasi untuk Pasar Global

Situasi ini mencerminkan ketidakpastian yang tinggi di pasar minyak dunia. Perang di Iran tidak hanya mempengaruhi aspek geopolitik, tetapi juga membawa dampak ekonomi yang kompleks melalui fluktuasi harga minyak. Konsumen dan pelaku pasar di seluruh dunia harus bersiap menghadapi volatilitas yang mungkin terjadi dalam waktu dekat.

  • Potensi gangguan pasokan jangka panjang dapat menaikkan harga minyak secara signifikan.
  • Pelemahan permintaan akibat harga tinggi berpotensi menekan harga minyak secara drastis.
  • Perkembangan politik dan diplomasi di Timur Tengah menjadi faktor kunci yang menentukan arah pasar.

Kesimpulan

Goldman Sachs soroti risiko dua arah terhadap harga minyak imbas perang di Iran yang menempatkan pasar minyak dunia pada posisi rentan terhadap fluktuasi harga yang tajam. Sementara gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia berpotensi meningkatkan harga minyak, penurunan permintaan global yang nyata akibat harga tinggi juga dapat menekan harga secara signifikan. Oleh karena itu, para pelaku pasar harus terus memantau perkembangan konflik dan kondisi permintaan untuk mengambil keputusan yang tepat di tengah ketidakpastian ini.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.