Media KampungMorgan Stanley memperkirakan persediaan bensin di Amerika Serikat akan menurun di bawah 200 juta barel pada akhir Agustus 2026, menandakan tekanan pasar energi yang semakin kuat.

Data Badan Informasi Energi (EIA) menunjukkan persediaan bensin AS mencapai 222 juta barel pada akhir April 2026, level terendah sejak 2014.

Dalam skenario dasar, analis Morgan Stanley menilai persediaan akan turun menjadi 198 juta barel pada akhir Agustus, mencatat ini sebagai level terendah dalam catatan modern.

Seorang analis, Martijn Rats, menulis, ‘Pasar bensin AS benar-benar ketat dan akan semakin ketat menjelang musim panas,’ menambahkan Charlotte Firkins dan Amy Gower.

Penurunan persediaan ini diprediksi akan memperlebar selisih harga berjangka bensin terhadap Brent menjadi sekitar USD 40 per barel pada Juli 2026.

Jika tren berlanjut, level persediaan akan menyamai rekor terendah sejak Oktober 2012, menambah kekhawatiran tentang kelangkaan musim panas.

Kelangkaan tersebut dapat menambah beban konsumen, mengingat rata-rata harga bensin mencapai USD 4,48 per galon menurut American Automobile Association.

Penurunan impor bensin ke Pantai Timur menjadi faktor utama, karena pengiriman dari Eropa dan Timur Tengah telah hampir berhenti.

Morgan Stanley mencatat, ‘Kirimannya dari Arab Saudi, Malaysia, dan ARA dalam jumlah besar tidak ada,’ menegaskan gangguan pasokan global.

Margin keuntungan yang lebih tinggi pada diesel dan avtur mendorong kilang memprioritaskan produksi bahan bakar tersebut, mengorbankan produksi bensin.

Ekspor bensin AS tetap tinggi karena pembeli luar negeri menarik volume yang seharusnya dipasok ke pasar domestik.

Dalam skenario ekstrem, persediaan dapat turun hingga 190 juta barel pada akhir Agustus, meningkatkan crack spread hingga USD 45‑50 per barel.

Pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh diperkirakan akan mengembalikan aliran impor, menurunkan tekanan pada stok domestik.

Namun, selama beberapa minggu ke depan, pasar tetap diproyeksikan berada dalam kondisi sangat ketat, menuntut pemantauan intensif dari pelaku industri.

Situasi ini menegaskan bahwa pasokan bensin AS akan menjadi faktor penentu harga energi selama musim panas mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.