Media Kampung – Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengumumkan alokasi dana sebesar Rp 40 miliar untuk program pembibitan kopi Gayo yang rusak akibat bencana di Aceh. Langkah ini menjadi bagian penting dalam upaya pemulihan sektor pertanian daerah setelah terjadi kerusakan luas pada perkebunan kopi.
Anggaran tersebut direncanakan mencakup pembelian bibit unggul, pembangunan fasilitas pembibitan, serta pelatihan bagi petani lokal. Amran menegaskan bahwa dana akan disalurkan mulai Januari 2025 dan akan dikoordinasikan dengan pemerintah provinsi Aceh serta perguruan tinggi setempat.
“Aku sudah ketemu tadi rektor. Datang pagi-pagi dengan Pak Dijon. Kita akan kembangkan kerja sama dengan rektor Unsyiah. Bangun pembibitan. Bersama-sama bangun kembali,” ujar Amran dalam pertemuan di kediamannya, Jakarta Selatan, pada Rabu (6/5). Ia menambahkan bahwa perkiraan anggaran berada pada kisaran Rp 30‑40 miliar, menyesuaikan kebutuhan lapangan.
Pembibitan kopi menjadi prioritas karena varietas Arabika Gayo dikenal memiliki nilai ekspor tinggi. Setelah bencana, banyak pohon kopi muda yang mati, menyebabkan penurunan produksi dan kenaikan harga di pasar domestik. Dengan bibit baru yang tahan terhadap kondisi ekstrem, diharapkan produksi dapat kembali stabil dalam jangka menengah.
Kerja sama dengan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menjadi kunci teknis program. Pihak universitas akan menyediakan laboratorium riset, fasilitas kultur jaringan, dan tenaga ahli agronomi untuk menjamin kualitas bibit. Unsyiah juga akan membantu menyusun modul pelatihan bagi petani, sehingga mereka dapat mengelola kebun secara lebih efisien dan berkelanjutan.
Selain pembibitan, Menteri Pertanian juga meninjau kembali infrastruktur irigasi dan pemulihan lahan pertanian yang terdampak. Pada akhir 2025, Amran dijadwalkan bertemu Gubernur Aceh Muzakir Manaf untuk membahas rencana rehabilitasi sawah dan kebun kopi secara terpadu. “Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur atas kedatangan dan kunjungannya. Insyaallah sektor pertanian di Aceh, mulai dari sawah yang rusak hingga komoditas kopi, akan kita perbaiki,” kata Amran.
Bantuan tambahan berupa beras sebanyak 10.000 ton yang disetujui pada Desember lalu juga menjadi bagian dari upaya penanggulangan dampak sosial pascabencana. Bantuan tersebut diminta oleh pemerintah daerah Aceh melalui perwakilan Mualem, lembaga kemanusiaan lokal.
Para petani di wilayah Takengon, Aceh Tengah, menyambut baik rencana pembibitan. Mereka berharap bibit baru dapat mengembalikan produktivitas dan membuka kembali akses pasar ekspor. Seorang petani mengungkapkan, “Jika bibitnya bagus dan kami mendapat pelatihan, kopi kami bisa kembali bersaing di pasar internasional.”
Pemerintah pusat menekankan bahwa program ini tidak hanya bersifat sementara, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan pangan dan meningkatkan pendapatan petani di daerah rawan bencana. Dengan dukungan dana, teknologi, dan kolaborasi akademik, diharapkan Aceh dapat kembali menjadi produsen kopi unggulan yang dikenal dunia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan