Harga Cabai Rawit Turun di Kediri, Tertinggi Rp36.000 per Kilogram

Media Kampung – Harga cabai rawit dan cabai keriting di Kediri mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan rilis harga dari Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI) Kabupaten Kediri pada 20 Juni 2026, harga cabai rawit merah (CRM) varietas Brengos 99 turun Rp6.000 menjadi Rp36.000 per kilogram. Penurunan ini dipicu oleh daya beli masyarakat yang menurun, meskipun pasokan cabai rawit justru bertambah.

Rincian Harga Cabai Rawit

  • Cabai Rawit Merah Brengos 99: Rp36.000/kg (turun Rp6.000)
  • Cabai Rawit Asmoro 043: Rp34.000/kg (turun Rp6.000)
  • Cabai Rawit Prentol Tumi 99: Rp27.000/kg (turun Rp5.000)
  • Cabai Rawit Juwita 25 F1: Rp27.000/kg (turun Rp5.000)

Harga Cabai Keriting dan Cabai Besar

Cabai merah keriting (CMK) juga mengalami penurunan. Varietas Boos Tavi turun Rp2.000 menjadi Rp25.000 per kilogram, sedangkan Sibad 46 turun Rp2.000 menjadi Rp23.000 per kilogram. Sementara itu, harga cabai merah besar (CMB) jenis Gada EVO stabil di Rp23.000 per kilogram, Imola Rp21.000, dan Sandi 08 Rp19.000 per kilogram.

Penyebab Penurunan Harga

Ketua APCI Kabupaten Kediri, Suyono, menjelaskan bahwa penurunan harga terjadi karena pasar sepi dan daya beli masyarakat menurun. “Harga cabai rawit merah dan cabai merah keriting turun, meski pasokan cabai rawit bertambah. Sedangkan harga cabai merah besar dan pasokan masih tetap, kondisi pasar sepi daya beli menurun,” ujarnya.

Pasokan dan Distribusi

Di Pasar Induk Pare, Kediri, pasokan cabai merah besar mencapai 6 ton dari Kediri dan Malang. Cabai merah keriting dipasok 1,5 ton dari Kediri dan Blitar, sedangkan cabai rawit merah mencapai 15 ton dari Kediri, Malang, dan Jawa Tengah. Penyerapan industri melalui glower mencapai 2 ton cabai merah besar, 0,8 ton cabai merah keriting, dan 3 ton cabai rawit merah. Selain itu, terdapat pengiriman cabai rawit merah sebanyak 3 ton dari Kediri ke Kalimantan.

Penurunan harga ini memberikan kelegaan bagi konsumen, namun petani dihadapkan pada tantangan daya beli yang rendah. Kondisi ini diperkirakan akan berlanjut hingga ada perubahan signifikan di sisi permintaan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.