Media Kampung, Kediri – Harga cabai di Pasar Induk Pare Kabupaten Kediri bergerak fluktuatif pada Senin, 6 Juli 2026. Cabai Merah Besar (CMB) justru turun, sementara Cabai Merah Keriting (CMK) dan Cabai Rawit Merah (CRM) naik meskipun pasokan semua jenis cabai turun drastis.
Ketua Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI) Kabupaten Kediri, Suyono, merinci pasokan CMB hanya 5 ton dari hasil panen normal 18 ton, atau turun 72,2 persen. Pada Senin, harga CMB jenis Gada EVO turun Rp2.000 menjadi Rp22.000, Biola F1 turun Rp1.000 menjadi Rp21.000, dan Sandi 108 F1 turun Rp3.000 menjadi Rp19.000.
Kondisi berbeda terjadi pada CMK. Pasokan CMK hanya 1,5 ton dari normal 10 ton atau turun 85 persen. “Harga CMK jenis Bogos 1×1 F1 naik Rp2.000 menjadi Rp25.000. Sbad 46 juga naik Rp2.000 ke Rp23.000 per kilogram,” kata Suyono.
Kenaikan paling tajam terjadi pada CRM. Pasokan 14 ton dari normal 35 ton (turun 60 persen), tetapi harganya melonjak. “Harga CRM jenis Brengos 99 Rp31.000 naik Rp11.000. Asmoro 043 Rp38.000 naik Rp11.000. TUMI 99 Rp35.000 naik Rp12.000. Juwita 25 F1 Rp35.000 naik Rp14.000,” ujar Suyono.
Menurut Suyono, kondisi ini dipengaruhi serapan industri dan pengiriman luar daerah. Penyerapan ke industri melalui Glower cukup tinggi. “Seperti pada CMB 2 ton, CMK 7 ton, CRM 4 ton. CRM juga dikirim 4 ton ke Kalimantan,” jelasnya.
Pasokan yang masuk Pasar Induk Pare saat ini memang lebih sedikit dari biasanya. CMB berasal dari Kediri, Malang, Blitar, Jember. CMK dari Kediri dan Blitar, sedangkan CRM dari Kediri, Malang, dan Jawa Tengah. Sisa pasokan setelah diserap industri dan dikirim ke luar daerah digunakan untuk kebutuhan pasar modern dan tradisional di seluruh Jawa Timur, sehingga stok di pasar induk menipis.
Suyono menjelaskan, penurunan harga CMB meski pasokan turun terjadi karena permintaan pasar lebih rendah dibanding CMK dan CRM. “Kini, permintaan industri dan pedagang lebih banyak ke cabai keriting dan rawit, sehingga harganya terdorong naik,” katanya.
APCI memperkirakan fluktuasi harga cabai masih akan terjadi sepekan ke depan, tergantung cuaca panen di sentra produksi dan permintaan dari industri maupun luar Jawa Timur. Suyono mengimbau petani untuk tetap memantau harga dan mengatur pola panen. “Dengan pasokan turun, momentum harga rawit dan keriting bisa dimanfaatkan petani. Tapi tetap jaga kualitas agar serapan industri lancar,” ungkapnya.






















Tinggalkan Balasan