Media Kampung – Pemerintah memastikan bahwa Proyek Dragon, joint venture antara PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan raksasa baterai asal China CATL, akan diresmikan pada akhir Juli 2026. Hal ini disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia setelah melaporkan perkembangan proyek tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan pada 22 Juni 2026.

Proyek senilai Rp98 triliun ini merupakan pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) terintegrasi dari hulu ke hilir. Bagian hilir berupa pabrik sel baterai di Karawang, Jawa Barat, telah memasuki tahap akhir penyelesaian dan siap beroperasi penuh dengan kapasitas awal 6,9 GWh per tahun. Sementara itu, aktivitas penambangan nikel di Halmahera Timur, Maluku Utara, sudah berjalan sejak 2023, dan fasilitas smelter RKEF serta HPAL masih dalam tahap penyelesaian.

Struktur Joint Venture Proyek Dragon

Proyek Dragon tidak berdiri dalam satu payung tunggal, melainkan dibagi ke dalam enam perusahaan patungan yang melibatkan ANTM, Indonesia Battery Corporation (IBC), dan Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL), anak usaha CATL. Dalam struktur ini, ANTM memegang kendali penuh di hulu tambang dengan kepemilikan 51 persen, sementara teknologi manufaktur pemurnian dan pabrikasi sel baterai di hilir dipimpin oleh CATL (CBL).

Dampak terhadap Kinerja ANTM

Peresmian Proyek Dragon menjadi katalis besar bagi ANTM tahun ini, meskipun kontribusi finansial langsung diperkirakan masih terbatas. Pabrik sel baterai di Karawang dioperasikan melalui PT CATIB, di mana IBC memiliki 30 persen, sehingga manfaat bagi ANTM pada 2026 lebih berupa peningkatan aktivitas komersial di sisi hulu dan permintaan bijih nikel dari ekosistem baterai nasional.

ANTM sendiri telah menunjukkan fundamental solid. Pada kuartal I-2026, laba bersih mencapai Rp3,41 triliun, naik hampir 60 persen secara tahunan. Pendorong utama pertumbuhan berasal dari bisnis hulu nikel dan emas. Pemerintah telah menyetujui peningkatan kuota RKAB ANTM menjadi 18,1 juta wet metric ton (wmt), naik 13,1 persen dari realisasi 2025. Dengan asumsi 30 persen kuota terserap pada kuartal III, volume penjualan bijih nikel berpotensi mencapai 5,4 juta wmt dalam satu kuartal.

Prospek Jangka Panjang

Kontribusi finansial terbesar dari Proyek Dragon diperkirakan baru terefleksi secara bertahap dan mencapai fase pertumbuhan eksponensial mulai tahun buku 2028, ketika seluruh rantai nilai dari hulu ke hilir beroperasi optimal. Saat smelter RKEF beroperasi penuh, fasilitas HPAL memproduksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), dan pabrik sel baterai mencapai utilisasi optimal, ANTM tidak lagi hanya menjual bijih nikel mentah, melainkan menikmati nilai tambah dari seluruh rantai hilirisasi.

Tantangan yang Dihadapi

Meski menjanjikan, ANTM tetap menghadapi tantangan besar terkait realisasi investasi hulu-hilir dan kebutuhan modal yang masif. Integrasi ekosistem sangat bergantung pada ketepatan waktu penyelesaian smelter RKEF dan pabrik HPAL. Selain itu, volatilitas harga nikel global dan potensi normalisasi harga emas dapat menekan margin keuntungan.

Dari sisi valuasi, harga saham ANTM saat ini di Rp2.700 per saham mencerminkan PBV 1,65 kali dan PE 7,53 kali—masih atraktif, apalagi harga sudah terkontraksi lebih dari 17 persen sejak awal tahun. Namun, secara teknikal harga masih dalam tren turun dengan support terdekat di kisaran Rp2.500. Oleh karena itu, strategi akumulasi bertahap disarankan untuk mengurangi risiko volatilitas sembari menunggu realisasi katalis pertumbuhan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.