Media Kampung – Saham fundamental tidak eksklusif bagi investor dengan dana jutaan; sistem lot di pasar modal Indonesia memungkinkan pembelian dengan ratusan ribu rupiah per transaksi.

Di Indonesia satu lot berisi 100 lembar saham, sehingga harga yang tampil di aplikasi harus dikalikan 100 untuk mengetahui nilai pembelian sesungguhnya; contoh, Telkom Indonesia (TLKM) diperdagangkan sekitar Rp3.500 per lembar, menghasilkan biaya satu lot sekitar Rp350.000.

Strategi beli bertahap atau dollar cost averaging memungkinkan investor menabung sejumlah tetap tiap bulan, membeli saham sesuai harga pasar, sehingga pada periode harga turun investor memperoleh lebih banyak lembar.

Jika seorang karyawan menyisihkan Rp300.000 setiap bulan untuk TLKM, pada bulan pertama ia akan memperoleh hampir satu lot; pada bulan berikutnya jumlah lot yang diperoleh dapat berubah tergantung fluktuasi harga, namun akumulasi tetap terjadi tanpa beban modal besar di awal.

Perusahaan dengan fundamental kuat seperti Bank Central Asia (BBCA), Telkom Indonesia (TLKM), dan Indofood CBP (ICBP) menghasilkan laba konsisten dari layanan keuangan, jaringan telekomunikasi, serta produk konsumen, sehingga nilai saham mereka dipengaruhi oleh kinerja operasional bukan sekadar spekulasi pasar.

“Intinya, saham fundamental menilai kekuatan bisnis perusahaan, bukan sekadar harga tinggi,” kata Annisa Nur Fitriani dalam artikel IDN Times, menegaskan bahwa pemahaman terhadap model bisnis menjadi kunci bagi investor kecil.

Data pasar menunjukkan bahwa banyak saham fundamental diperdagangkan di kisaran Rp2.000‑Rp4.000 per lembar, artinya satu lot dapat dibeli dengan modal di bawah satu juta rupiah, sebanding dengan pengeluaran rutin sebagian masyarakat.

Pembelian secara rutin juga mengurangi tekanan psikologis karena pergerakan harga harian tidak menjadi satu-satunya faktor keputusan, melainkan konsistensi dalam menambah porsi kepemilikan.

Dengan memahami sistem lot dan menerapkan strategi pembelian periodik, investor dengan gaji standar atau UMR dapat membangun portofolio saham fundamental yang solid tanpa menunggu akumulasi modal besar.

Pengalaman pasar hari ini menunjukkan bahwa akses ke saham fundamental tetap terbuka, asalkan investor mengubah persepsi harga per lembar menjadi nilai lot yang realistis dan menyesuaikan investasi dengan kemampuan keuangan masing‑masing.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.