Media Kampung – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus memberikan tekanan pada perajin tempe di Lumajang, Jawa Timur. Rupiah Kian Lemah membuat harga kedelai impor melonjak, sehingga para pengusaha kecil harus berjuang keras untuk bertahan.
Umi Jamilah, perajin tempe asal Desa Labruk Kidul, Kecamatan Sumbersuko, mengaku usahanya kini goyah. Ia menyebut harga kedelai yang semula Rp8 ribu per kilogram naik menjadi Rp13 ribu per kilogram. Kenaikan ini memicu biaya produksi membengkak dan memaksanya menyesuaikan harga jual tempe dari Rp5 ribu menjadi Rp7 ribu per bungkus.
Meski menaikkan harga, Umi menyadari daya beli masyarakat juga tertekan. Namun, ia tidak punya pilihan lain untuk menutup biaya produksi. “Tetap dijual, hanya harganya naik sedikit. Kalau tidak begitu, sulit untuk menutup biaya produksi,” ujarnya, Rabu (17/6/2026).
Selain harga bahan baku, tantangan lain adalah pemasaran. Umi mengatakan semakin banyak produk pesaing membuat pelanggan sulit dipertahankan. “Nah tambah susah sekarang itu pemasarannya, ditambah bahan baku naik terus,” keluh perempuan berusia 50 tahun itu.
Meski menghadapi berbagai kesulitan, Umi berencana menghidupkan kembali kelompok usaha yang sempat vakum dan berinovasi memproduksi makanan ringan berbahan tempe. Ia berharap usahanya bisa berkembang dan melibatkan lebih banyak masyarakat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan