Media Kampung – Pedagang warteg mengungkapkan situasi di balik etalase warung mereka yang semakin memprihatinkan. Pembeli kini hanya mampu membayar Rp 15 ribu untuk seporsi nasi dengan lauk tempe, sayur tahu, telur asin, dan kerupuk. Menu berprotein tinggi seperti ayam, ikan, dan daging sapi mulai ditinggalkan karena daya beli masyarakat merosot tajam.
Mukroni, seorang pengamat ekonomi, menyatakan bahwa pedagang warteg terhimpit oleh kenaikan biaya operasional sementara daya beli masyarakat kelas pekerja dan menengah ke bawah merosot. Pola konsumsi berubah drastis: pembeli tidak lagi memilih menu berdasarkan keinginan, melainkan berdasarkan sisa uang di dompet. Banyak yang meminta paket makan dengan harga Rp 15.000 hingga Rp 20.000.
Fenomena ini juga terlihat di berbagai daerah. Ramdanti, pemilik warteg di Cibinong, Bogor, mengaku harus mengurangi jumlah potong ayam yang disajikan dari 50 menjadi 20-25 potong per hari. Omzetnya turun dari Rp 2 juta per hari menjadi jauh lebih sedikit. Di Pamulang, Tangerang Selatan, Hery pemilik Warteg 21 terpaksa menghapus menu terong balado, opor ayam, dan rawon karena harga bahan baku naik 40-100 persen. Lina, pengelola Warteg Gria Bahari, mencatat penurunan jumlah pelanggan hingga 50 persen.
Pedagang warteg berada dalam dilema. Jika harga dinaikkan, pembeli akan kabur. Jika porsi dikurangi, pelanggan kecewa. Akibatnya, banyak pedagang memilih mengorbankan margin keuntungan demi menjaga warung tetap berputar. Di Jakarta Selatan, rumah makan Padang Basalero yang telah berdiri sejak 1983 juga merasakan tekanan serupa.
Ekonom Nailul Huda dari Celios menilai fenomena ini mencerminkan tekanan berat pada kelas menengah ke bawah. Warteg menjadi barometer kondisi ekonomi karena konsumennya adalah mereka yang mengandalkan makanan murah untuk bertahan hidup. Hilangnya menu tertentu seperti rawon dan opor ayam dari etalase warteg menjadi tanda masyarakat memasuki fase bertahan hidup.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan