Media Kampung – Nilai tukar rupiah mengalami tekanan tajam hingga menembus angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis pagi, 4 Juni 2026. Kondisi ini menunjukkan pelemahan signifikan dari posisi sebelumnya yang berada di kisaran Rp17.966 per dolar AS pada penutupan hari Rabu.

Pelemahan rupiah ini didorong oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya eskalasi militer antara Israel dan Iran serta serangan militer AS di Pulau Qeshm, meningkatkan kekhawatiran pasar akan stabilitas pasokan energi global. Jalur Selat Hormuz yang vital bagi konsumsi minyak dunia terancam, sehingga mendorong kenaikan harga minyak dan memperkuat permintaan dolar sebagai aset aman.

Dari dalam negeri, tekanan juga datang dari melemahnya surplus neraca perdagangan Indonesia. Surplus perdagangan pada April 2026 hanya mencapai USD 0,09 miliar, turun drastis dibandingkan Maret yang sebesar USD 3,32 miliar. Akumulasi surplus Januari hingga April 2026 juga menyusut menjadi USD 5,64 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Keterbatasan pasokan dolar dari ekspor dan tingginya kebutuhan impor bahan baku serta energi memperkuat permintaan dolar dan melemahkan rupiah.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah bukan hanya karena faktor musiman, tetapi juga akibat kombinasi tekanan eksternal dan domestik. Kenaikan harga energi dan inflasi yang meningkat pada Mei 2026 menjadi bukti dampak pelemahan nilai tukar terhadap ekonomi nasional.

Selain itu, Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, mengingatkan bahwa pergerakan rupiah ke zona Rp18.000 dapat mengguncang stabilitas ekonomi dalam negeri. Ia menekankan bahwa pelemahan ini tidak semata karena faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat atau indeks dolar yang kuat, tetapi juga mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap ketahanan fiskal dan fundamental ekonomi Indonesia.

Jika tren depresiasi rupiah dibiarkan berlangsung lama tanpa intervensi yang efektif, harga komoditas impor diperkirakan akan naik, yang pada akhirnya menurunkan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah. Inflasi impor yang meningkat bisa menjadi ancaman nyata bagi kestabilan ekonomi nasional.

Data real-time dari platform Investing menunjukkan rupiah melemah 0,43 persen atau sekitar 76,3 poin ke posisi Rp18.001 per dolar AS pada pukul 06.20 WIB. Dalam 24 jam terakhir, rupiah sempat menyentuh titik terlemah di Rp18.013 per dolar AS.

Di tengah kondisi ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan publik yang menyatakan bahwa kemerosotan nilai tukar rupiah disebabkan oleh tata kelola kebijakan fiskal pemerintah yang kurang hati-hati. Menkeu menegaskan bahwa penyebab pelemahan rupiah lebih kompleks dan melibatkan berbagai faktor global dan domestik.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.