Media Kampung – Badan Pusat Statistik (BPS) membenarkan keluhan pedagang warung tegal (warteg) mengenai lonjakan harga sayuran, terutama cabai dan bawang merah, yang terjadi pada Mei 2026. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa kenaikan harga ini dipengaruhi faktor musiman dan meningkatnya permintaan menjelang Idul Adha 1447 Hijriah.
Data inflasi Mei 2026 mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,39 persen secara bulanan, menjadi penyumbang terbesar inflasi nasional yang mencapai 0,28 persen month to month. Kelompok volatile food, yang sebelumnya deflasi 0,88 persen pada April 2026, kembali mencatat inflasi 0,22 persen pada Mei 2026.
Pudji Ismartini mengungkapkan bahwa kenaikan harga sayuran dipicu oleh perubahan permintaan masyarakat akibat hari besar keagamaan. Selain itu, gangguan produksi di daerah sentra turut mempengaruhi pasokan. Produksi cabai merah menurun pada April 2026 di Garut, Temanggung, dan Malang akibat cuaca ekstrem, serangan hama, dan kekeringan. Sementara itu, panen bawang merah pada Mei 2026 mengalami tekanan di Sampang, Enrekang, Bojonegoro, Pati, dan Demak.
Kenaikan harga tomat, sawi hijau, cabai rawit, dan timun juga tercatat, terutama didorong oleh peningkatan permintaan menjelang Idul Adha. Cabai merah menjadi penyumbang inflasi terbesar dari kelompok sayuran dengan andil 0,08 persen, disusul bawang merah 0,04 persen, tomat 0,03 persen, serta sawi hijau, cabai rawit, dan timun masing-masing 0,01 persen.
Kondisi ini membuat para pedagang warteg mengeluhkan mahalnya harga bahan baku, yang berpotensi mempengaruhi harga jual makanan mereka. BPS memastikan bahwa kenaikan harga bersifat musiman dan akan kembali normal setelah periode permintaan tinggi berakhir.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan