Media Kampung – Anggapan bahwa pendidikan tinggi bagi perempuan adalah investasi sia-sia masih mengakar kuat di masyarakat Indonesia. Pandangan ini bukan sekadar gosip di teras rumah, melainkan tercermin dalam data ketenagakerjaan nasional. Cerpen “Perempuan yang Terbungkam” karya Nazia Syauqilla di Harian Kompas menjadi cermin ironi tersebut: seorang siswi diterima di SMA unggulan, tetapi disambut komentar dingin, “Sekolah di tempat bagus untuk apa? Kan, nanti juga bakal gitu-gitu aja.”

Data BPS: Ketimpangan Partisipasi Kerja Perempuan

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), kesenjangan gender masih sangat lebar. Angka partisipasi kerja laki-laki jauh melampaui perempuan, yang sering tertahan di usia paruh baya. Banyak perempuan usia produktif tidak terserap di dunia kerja bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena “ditahan” oleh ekspektasi lingkungan. Sejak kecil, anak perempuan dididik untuk mengalah, menghemat biaya untuk adik, atau membantu ibu di rumah, sementara anak laki-laki diposisikan sebagai penerus keluarga yang berhak atas fasilitas terbaik.

Teori Domestifikasi Paksa Julia Cleves Mosse

Sosiolog Julia Cleves Mosse dalam teorinya tentang domestifikasi paksa (domesticity) menjelaskan bahwa masyarakat patriarki secara halus mengekang potensi perempuan dengan membungkus peran domestik sebagai satu-satunya “kodrat” dan adab kesopanan. Perempuan yang keluar dari jalur itu langsung diberi label pemberontak atau tidak tahu adat. Hal ini sejalan dengan pengalaman tokoh utama dalam cerpen Nazia, yang harus menghadapi skeptisisme komunal terhadap pendidikannya.

Perlawanan Sunyi di Era Digital

Bagian paling menarik dari cerpen tersebut adalah bagaimana tokoh utama tidak menyerah. Di tengah malam, ia membuka gawai dan mencari informasi tentang “isu perempuan” di internet. Kalimat “Aku juga bisa, aku juga layak” menjadi mantra perlawanan sunyi. Ini menunjukkan bahwa kesadaran akan kesetaraan gender kini bisa dimulai dari kamar sendiri, melalui akses informasi digital. Namun, perjuangan emansipasi yang paling berat bukan di panggung seminar, melainkan di dapur, teras, dan ruang keluarga.

Cerpen Nazia Syauqilla mengajak kita merenung: sampai kapan anak-anak perempuan di sekitar kita harus menyembunyikan mimpi mereka hanya karena takut dibilang menyalahi kodrat? Sangkar patriarki sudah waktunya dibuka, agar perempuan bisa terbang tinggi dan membuktikan bahwa mereka sangat layak untuk maju.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.