Media KampungBudaya patriarki masih menjadi tantangan terbesar dalam mendorong kesetaraan dan pemberdayaan perempuan di tingkat gampong di Banda Aceh. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG) Kota Banda Aceh, Ritasari Pujiastuti, mengungkapkan bahwa pola pikir yang menempatkan perempuan pada peran domestik membatasi partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan dan pembangunan gampong.

Meskipun perempuan saat ini sudah banyak terlibat dalam aktivitas ekonomi dan pembangunan, partisipasi mereka di berbagai forum seringkali masih bersifat formalitas. Ritasari menekankan perlunya penguatan partisipasi perempuan agar tidak hanya hadir secara administratif, tetapi benar-benar memengaruhi proses perencanaan dan kebijakan.

Selain faktor budaya, keterbatasan akses terhadap permodalan menjadi kendala bagi perempuan yang ingin mengembangkan usaha mikro atau kegiatan ekonomi produktif. Keberlanjutan program pendampingan juga masih menjadi pekerjaan rumah; pelatihan yang diberikan perlu diikuti dengan pendampingan berkelanjutan agar keterampilan dapat berkembang menjadi usaha produktif.

Ritasari mengakui bahwa keterbatasan anggaran dan prioritas program menjadi tantangan bagi pemerintah dalam memperluas jangkauan program pemberdayaan. Meski demikian, DPMG Banda Aceh berkomitmen memperkuat program peningkatan kapasitas perempuan melalui pelatihan, pendampingan, dan penguatan kelembagaan di tingkat gampong.

Menurutnya, pemberdayaan perempuan bukan hanya soal kesetaraan, tetapi juga faktor penting dalam memperkuat ekonomi keluarga dan pembangunan masyarakat. Ketika perempuan diberi ruang berkembang, dampaknya dirasakan oleh keluarga dan gampong tempat mereka tinggal.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.