Media Kampung – Fenomena Loneconomics menjadi sorotan ketika transaksi digital makin cepat namun interaksi antar manusia makin sunyi. Istilah ini menggambarkan paradoks ekonomi modern: kemajuan teknologi mempercepat transaksi, tetapi berpotensi menghilangkan ruang percakapan manusia dalam aktivitas ekonomi.

Di sebuah kedai kopi di Manado, semua meja terisi namun ruangan terasa sepi karena hampir setiap orang sibuk dengan layar masing-masing. Pesanan dibuat lewat aplikasi, pembayaran dilakukan dengan QRIS, dan nyaris tidak ada percakapan. Inilah wajah ekonomi modern yang praktis dan efisien, namun di baliknya terdapat paradoks yang jarang dibicarakan.

Bank Indonesia mencatat hingga April 2026, QRIS telah menjangkau lebih dari 63 juta pengguna dan 45 juta merchant, di mana lebih dari 90 persennya adalah pelaku UMKM. Volume transaksi mencapai 7,83 miliar kali dengan nilai Rp709,72 triliun, tumbuh 114,76 persen (yoy) dan 97,86 persen (yoy). Laporan Google, Temasek, dan Bain Company pada 2025 juga menyebut ekonomi digital Indonesia akan terus tumbuh signifikan.

Namun, di balik keberhasilan tersebut, terdapat dimensi sosial yang perlu diperhatikan. Transaksi digital yang efisien belum tentu menciptakan kedekatan emosional. Kesepian kini diakui sebagai masalah kesehatan global. WHO pada 2025 menyebut satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian, dengan dampak serius terhadap kesehatan dan kesejahteraan. Inggris dan Amerika Serikat telah meluncurkan strategi nasional untuk mengatasi kesepian.

Loneconomics bukan ajakan untuk menolak digitalisasi, melainkan pengingat bahwa kemajuan ekonomi tidak hanya diukur dari kecepatan transaksi. Teknologi pembayaran harus menjadi jembatan yang mempertemukan manusia, bukan dinding kaca. Oleh karena itu, kebijakan publik perlu memperluas literasi keuangan digital, memperkuat perlindungan konsumen, dan merancang ruang interaksi sosial dalam ekosistem digital. Pelaku usaha juga perlu menyadari bahwa keramahan tetap menjadi kunci loyalitas pelanggan.

Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah apakah teknologi telah membuat hidup masyarakat lebih aman, lebih adil, dan lebih manusiawi. Mungkin bahaya terbesar ekonomi digital bukan transaksi yang gagal, melainkan percakapan yang perlahan menghilang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.