Media Kampung, Bandung Piala Presiden 2026 resmi bergulir sejak 25 Juli hingga 6 Agustus 2026. Ajang pramusim yang diikuti delapan klub dari empat negara ini tidak hanya menyajikan hiburan sepak bola, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi lokal melalui keterlibatan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Tiket Murah dan Hiburan Rakyat

Turnamen dibuka pada Sabtu (25/7) di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung. Acara pembukaan dimeriahkan oleh Edo Kondologit, Toton Caribo, dan Jacson Zeran, serta melibatkan ratusan anak sekolah sepak bola dan penari dari Kata Kambings Project Bandung. Laga perdana Persib Bandung kontra Arema FC disaksikan hampir 24 ribu penonton dari kapasitas 27 ribu kursi.

Baca juga:

Tiket seluruh pertandingan dipatok seragam Rp50 ribu, jauh di bawah harga biasanya. Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden 2026, Maruar Sirait, menegaskan bahwa ini adalah hiburan rakyat yang berkualitas dan terjangkau.

Pemberdayaan UMKM

Panitia menggandeng 100 UMKM: 50 di Bandung dan 50 di Surabaya. Mereka tersebar di sekitar stadion dengan harga makanan dan minuman yang tetap terjangkau. Misalnya, cuanki Rp25 ribu dan mi kocok Rp30 ribu. Ketua Organizing Committee (OC) Tsamara Amany menjelaskan bahwa UMKM yang terlibat dikurasi dalam tiga kategori: yang sudah dikenal, sedang naik kelas, dan baru menetas.

Baca juga:

Menurut Maruar Sirait, keterlibatan UMKM ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya butir keenam: ‘Membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan.’ Ia optimistis ajang ini tidak hanya menggerakkan ekonomi lokal, tetapi juga memperkenalkan UMKM baru ke khalayak luas.

Dampak Ekonomi dan Apresiasi

Selain UMKM, kehadiran suporter dari luar daerah juga mendorong sektor perhotelan dan transportasi. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengapresiasi penyelenggaraan Piala Presiden 2026. Ia berharap semakin banyak kompetisi serupa di Indonesia untuk meningkatkan kualitas sepak bola nasional.

Baca juga:

Piala Presiden 2026 membuktikan bahwa sepak bola bisa menjadi katalis pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan sinergi pemerintah, PSSI, dan panitia, turnamen ini menjadi contoh nyata implementasi Asta Cita melalui olahraga dan UMKM.