Akademisi Soroti Kinerja Senator Asal NTB 2 Tahun Kinerja Mirah Midadan Fahmid
<pDalam dua tahun terakhir, kinerja Senator asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Mirah Midadan Fahmid, menjadi sorotan tajam dari kalangan akademisi dan masyarakat. Kritik tersebut datang dari Rahimun M Said, mahasiswa Magister Ilmu Politik Universitas Nasional (UNAS) Jakarta, yang menilai bahwa demokrasi harus dibangun atas dasar pertanyaan dan keberanian mengkritisi, bukan sekadar tepuk tangan atau citra semu.
Media Kampung –
Fenomena ini mengemuka mengingat masyarakat NTB mulai mempertanyakan sejauh mana kontribusi nyata Senator Mirah Midadan Fahmid setelah memperoleh kepercayaan melalui ratusan ribu suara pada Pemilu 2024. Rahimun memandang bahwa dalam era politik modern, citra seorang wakil rakyat sering bergerak lebih cepat daripada hasil kerja yang nyata. Publik kerap disuguhkan dengan berbagai aktivitas, mulai dari foto kegiatan, kunjungan kerja, forum diskusi, hingga pertemuan dan publikasi rutin di media sosial. Namun, ukuran keberhasilan seorang senator bukanlah dari seberapa sering tampil di media, melainkan dari perubahan konkret yang dirasakan masyarakat pemilihnya.
Persoalan Mendasar di NTB dan Harapan Rakyat
Menurut Rahimun, berbagai persoalan mendasar masih menjadi tantangan bagi masyarakat NTB saat ini. Harga kebutuhan pokok yang tidak stabil, tantangan dalam sektor pendidikan, akses kesehatan yang belum merata, keterbatasan lapangan pekerjaan, serta pembangunan daerah yang memerlukan perhatian serius, merupakan isu-isu yang harus menjadi fokus perjuangan senator asal daerah tersebut.
Dalam konteks ini, rakyat tentu menginginkan agar suara mereka diperjuangkan secara maksimal di tingkat nasional. Meskipun Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) memiliki kewenangan yang terbatas dibandingkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI), Rahimun menegaskan bahwa keterbatasan kewenangan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan ekspektasi publik.
Ujian Kepemimpinan di Tengah Keterbatasan
“Penjelasan itu benar secara konstitusional, namun keterbatasan kewenangan tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan ekspektasi publik. Justru di tengah keterbatasan itulah kualitas kepemimpinan dan kemampuan dalam memperjuangkan kepentingan daerah diuji,” ujar Rahimun. Ia menambahkan bahwa rakyat tidak memilih alasan, melainkan harapan.
Akademisi soroti kinerja senator asal NTB 2 tahun kinerja Mirah Midadan Fahmid yang dinilai masih perlu ditingkatkan agar mampu membawa perubahan nyata bagi masyarakat. Rahimun mengingatkan bahwa sebagian masyarakat mulai terbiasa mengukur keberhasilan politik hanya dari popularitas dan citra yang dibangun, sehingga demokrasi bisa berubah menjadi panggung pencitraan dan bukan arena pertanggungjawaban.
Pentingnya Kritis dan Transparansi dalam Demokrasi
Rahimun mengajak rakyat NTB untuk kembali kepada prinsip dasar demokrasi, yakni setiap kekuasaan harus diawasi. Tidak ada pejabat publik yang kebal dari kritik, dan wakil rakyat tidak boleh merasa cukup hanya karena berhasil memenangkan pemilu. Jabatan merupakan awal kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan kepada publik, bukan titik akhir perjuangan.
“Rakyat NTB perlu lebih kritis, lebih berani bertanya, dan lebih tegas menagih hasil. Karena pada akhirnya, yang akan dikenang oleh sejarah bukanlah siapa yang paling sering tampil di hadapan kamera, melainkan siapa yang benar-benar membawa manfaat bagi rakyat yang telah memberikan kepercayaan kepadanya,” tegas Rahimun.
Refleksi Akhir
Akademisi soroti kinerja senator asal NTB 2 tahun kinerja Mirah Midadan Fahmid ini menjadi pengingat penting bahwa keberhasilan seorang wakil rakyat diukur dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat, bukan sekadar popularitas atau aktivitas yang tampak di media sosial. Masyarakat NTB diharapkan dapat terus mengawal dan menuntut pertanggungjawaban dari para wakilnya, agar demokrasi berjalan sehat dan pembangunan daerah dapat lebih optimal.
“Rakyat yang kritis bukan ancaman bagi demokrasi. Rakyat yang diam justru menjadi ancaman bagi masa depan daerahnya,” pungkas Rahimun M Said, Direktur NOISES.ID.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan